Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih menunjukkan pergerakan yang stagnan. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah pada perdagangan Kamis (18/6/2026) tercatat berada di level Rp17.826 per dolar AS. Posisi ini relatif tidak berubah dibandingkan hari-hari sebelumnya, meskipun secara mingguan rupiah tercatat masih menguat 0,53 persen dari posisi Rp17.921 per dolar AS pada pekan lalu.

Dolar AS Perkasa, Indeks Tembus Level Tertinggi dalam Setahun

Penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat menguat hingga menembus level 100,758 pada Jumat (19/6/2026). Bahkan sempat menyentuh level 101,03, yang merupakan level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir.

Penguatan dolar ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang masih berpeluang naik pada tahun ini. Dalam rapat terbaru, The Fed memutuskan menahan suku bunga di kisaran 3,50-3,75 persen, namun memberi sinyal tegas akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun. Hal ini membuat investor tetap menempatkan dana pada aset berbasis dolar dan memburu aset berdenominasi dolar AS.

Analis memprediksi bahwa selama The Fed masih mempertahankan sikap hawkish, tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah akan terus berlanjut.

BI Naikkan Suku Bunga, Upaya Stabilisasi Rupiah

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) telah mengambil sejumlah langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (18/6/2026), BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Kenaikan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen. Meski demikian, dampak dari kebijakan ini terhadap pergerakan rupiah di pasar masih terbatas di tengah dominasi penguatan dolar AS.