Sebuah pemandangan tak biasa terekam dalam laga krusial Kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Tim Nasional Indonesia melawan Arab Saudi di Stadion King Abdullah Sports City, Kamis (9/10/2025) dini hari WIB. Momen tersebut, yang kini viral di media sosial, memperlihatkan bek tengah Timnas Indonesia, Jay Idzes, menerima instruksi dari dua pemain Liga 1, Marc Klok dan Beckham Putra.
Dalam cuplikan video yang beredar luas di TikTok, Marc Klok terlihat memberikan arahan dengan gestur serius kepada Jay Idzes. Tak hanya itu, Beckham Putra pun turut menimpali dengan ekspresi tegas, menambah keheranan publik yang menyaksikan interaksi tersebut.
Kontroversi Level Kompetisi: Serie A vs Liga 1
Pemandangan ini sontak memicu perdebatan sengit di kalangan suporter sepak bola. Pasalnya, Jay Idzes bukanlah pemain sembarangan. Ia adalah bek yang kini memperkuat Sassuolo di Serie A Italia, salah satu liga top dunia. Sebelumnya, Idzes juga mencatatkan sejarah sebagai pemain Indonesia pertama yang menjadi kapten di klub Serie A saat membela Venezia.
Di level klub, Jay Idzes terbiasa berhadapan dengan striker-striker kelas dunia seperti Lautaro Martinez, Rafael Leao, hingga Dusan Vlahovic. Kontras dengan Marc Klok dan Beckham Putra yang berkiprah di Liga 1, kompetisi yang menurut AFC berada di peringkat ke-22 se-Asia.
Perbedaan level kompetisi yang begitu mencolok ini membuat publik mempertanyakan hierarki di dalam tim. Banyak yang merasa janggal melihat pemain sekelas Jay Idzes justru diatur oleh rekan setim yang levelnya dianggap jauh di bawahnya.
Reaksi Netizen dan Sisi Positif Komunikasi Tim
Kolom komentar di berbagai akun sepak bola pun dibanjiri kritik dan pertanyaan. Beberapa komentar netizen yang paling banyak disorot antara lain, “Pemain Serie A dikasih saran sama pemain rating terendah Liga 1, lucu banget.” Ada pula yang menyebut, “Jay Idzes biasa ngawal Barella dan Thuram, masa disetir Beckham.” Bahkan, tak sedikit yang lebih blak-blakan dengan menulis, “Beckham harusnya belajar dari Jay Idzes, bukan malah ngasih arahan.”
Namun, di tengah gelombang kritik tersebut, muncul pula suara-suara yang mencoba melihat dari sudut pandang positif. Sebagian pengamat dan suporter menilai bahwa interaksi tersebut justru menunjukkan adanya komunikasi yang sehat dan egaliter di dalam tim, terlepas dari perbedaan level kompetisi klub masing-masing pemain.




