Bek kanan andalan Paris Saint-Germain (PSG), Achraf Hakimi, secara terbuka mengungkapkan rasa frustrasinya atas kedatangan megabintang Lionel Messi ke klub pada tahun 2021. Hakimi merasa perubahan taktik tim setelah kehadiran Messi membuat perannya di lapangan menjadi sangat berbeda dari yang ia harapkan.
Pada musim panas 2021, PSG memang melakukan gebrakan besar di bursa transfer dengan mendatangkan sejumlah nama top. Selain Hakimi dan Messi, klub ibu kota Prancis itu juga merekrut Sergio Ramos, Georginio Wijnaldum, dan Gianluigi Donnarumma. Skuad yang sudah diperkuat Neymar dan Kylian Mbappe ini lantas dijuluki sebagai “superteam” yang digadang-gadang akan mendominasi Eropa.
Namun, kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi. PSG memang berhasil meraih gelar Ligue 1 pada musim 2021/2022, tetapi performa di kompetisi lain, terutama Liga Champions, jauh dari harapan. Hakimi sendiri mencatatkan empat gol dan enam assist dari 41 penampilan di semua kompetisi pada musim tersebut.
Perubahan Peran Hakimi Setelah Messi Bergabung
Dalam sebuah wawancara, Hakimi menjelaskan bahwa sebelum bergabung dengan PSG, ia dikenal sebagai bek sayap ofensif yang sangat aktif membantu serangan saat membela Inter Milan dan Borussia Dortmund. Namun, situasi tersebut berubah drastis setelah Messi datang.
Kehadiran pemain Argentina itu membuat pola permainan PSG lebih terpusat ke lini depan, sehingga peran Hakimi di sisi sayap menjadi lebih terbatas dan cenderung defensif. “Aku datang sebagai bek yang suka menyerang dan berkontribusi gol. Tapi ketika di PSG, terutama setelah Messi datang, aku harus lebih banyak bertahan,” ungkap Hakimi.
Pemain tim nasional Maroko itu juga mengaku tidak mengetahui rencana kedatangan Messi saat pertama kali menandatangani kontrak dengan PSG. Hal ini memaksanya untuk beradaptasi secara cepat dengan perubahan taktik yang terjadi di dalam tim.
Hakimi bahkan merasa perannya di PSG jauh berbeda dibanding saat ia membela tim nasional Maroko, di mana ia menjadi salah satu pemain kunci dan memiliki kebebasan lebih. Di Paris, ia justru merasa seperti “pemain kecil” karena tidak bisa menampilkan gaya bermain terbaiknya yang ofensif.




