Nilai tukar rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini, Senin (23/3/2026). Berdasarkan data Google Finance, rupiah tercatat turun sekitar 0,21% menjadi Rp 16.992 per dolar AS.

Kondisi ini terjadi di tengah periode libur panjang Lebaran dan Hari Raya Nyepi di Indonesia, yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 24 Maret 2026. Akibatnya, aktivitas perdagangan di pasar keuangan domestik tidak beroperasi.

Meskipun demikian, pergerakan rupiah tetap terpantau di pasar internasional melalui Non-Deliverable Forward (NDF). Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan bahwa pihaknya tetap siaga penuh.

“Meskipun pasar domestik tutup, pihaknya tetap siaga penuh. Mereka terus mantau pergerakan rupiah dan dolar selama 24 jam lewat pasar luar negeri,” ujar Destry.

Destry menambahkan, ketidakstabilan kondisi global, terutama konflik di Timur Tengah, turut memicu ketidakpastian di pasar keuangan dunia. Situasi ini mendorong investor asing untuk menarik dananya dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, dolar AS juga menunjukkan dinamika. Laporan Reuters menyebutkan bahwa dolar sempat mengalami penurunan mingguan pertamanya sejak konflik Iran memanas. Namun, tekanan dari kenaikan harga minyak memicu inflasi, yang pada gilirannya mendorong bank-bank sentral global untuk mempertimbangkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Beberapa bank sentral besar telah mengambil sikap hati-hati. Bank Sentral Eropa (ECB) memilih untuk menahan suku bunga, namun mengeluarkan peringatan terkait inflasi energi. Bank of England (BoE) juga melakukan hal serupa, sementara Bank of Japan (BoJ) bahkan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Dampak ketidakpastian ini juga terasa di pasar saham global. Indeks Nikkei Jepang diprediksi mengalami penurunan yang cukup signifikan, sementara imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir delapan bulan. Mata uang lain seperti dolar Australia melemah sekitar 0,17% terhadap dolar AS, dan dolar Selandia Baru (kiwi) turun tipis 0,03%.