Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, kembali membuat keputusan mengejutkan dengan tidak menyertakan nama bek kanan Real Madrid, Trent Alexander-Arnold, dalam daftar skuad terbaru untuk agenda internasional akhir Maret. Pencoretan ini menjadi sorotan, mengingat reputasi dan performa Alexander-Arnold di level klub.

Pengumuman skuad oleh The Football Association pada Minggu, 22 Maret 2026, justru menyoroti absennya Alexander-Arnold yang sebelumnya kerap menjadi langganan. Keputusan ini dinilai sejumlah pihak sebagai hal yang tidak biasa, terutama mengingat posisinya sebagai pemain kunci di salah satu klub raksasa Eropa.

Tuchel Sebut “Keputusan Olahraga”

Thomas Tuchel, dalam keterangannya, menyebut pencoretan Alexander-Arnold sebagai “keputusan olahraga”. Pernyataan ini menjadi dasar pemilihan Tuchel yang lebih memilih nama-nama seperti Tino Livramento, Djed Spence, dan Jarell Quansah untuk mengisi posisi bek kanan. Ketiga pemain tersebut dianggap memiliki potensi, namun pengalaman mereka di level elite masih jauh dibandingkan Alexander-Arnold.

Publik dan pengamat sepak bola mulai mempertanyakan konsistensi keputusan ini. Pasalnya, Alexander-Arnold secara reguler bermain di panggung terbesar sepak bola Eropa bersama Real Madrid, yang seharusnya menjadi indikator kesiapan dan kualitasnya. Pertanyaan muncul mengenai kriteria murni performa yang digunakan Tuchel, mengingat absennya pemain yang terus diuji di level tertinggi.

Kontras dengan Nasib Cole Palmer

Di sisi lain, lini tengah Timnas Inggris menyambut kembalinya Cole Palmer. Setelah sempat absen karena cedera, Palmer akhirnya mendapat panggilan dan akan merasakan sentuhan langsung Tuchel untuk pertama kalinya. Momen ini terasa kontras dengan nasib Alexander-Arnold yang justru semakin menjauh dari skuad.

Sementara itu, di lini depan, Tuchel tidak membuat kejutan berarti. Nama-nama seperti Harry Kane, Bukayo Saka, dan Phil Foden tetap menjadi pilihan utama, menunjukkan stabilitas di sektor penyerangan.

Pola yang Berulang

Absennya Trent Alexander-Arnold bukan kali pertama terjadi. Hal ini mulai membentuk sebuah pola yang memicu pertanyaan lebih lanjut dari publik. Seorang pemain yang sempat digadang-gadang sebagai masa depan Timnas Inggris kini seolah dipinggirkan dari narasi utama. Ketika keputusan semacam ini mulai terasa “terlalu konsisten untuk disebut kebetulan”, publik berhak mencari penjelasan lebih dalam.