Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras di kawasan Salemba, Jakarta, pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Insiden ini terjadi beberapa jam setelah Andrie menghadiri rekaman podcast yang membahas isu remiliterisasi dan revisi Undang-Undang TNI, topik yang selama ini menjadi fokus kritiknya.
Sebelum serangan brutal tersebut, Andrie Yunus dikenal sebagai peneliti yang vokal dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan sektor keamanan di Indonesia. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, ia konsisten menyoroti perluasan peran militer di ranah sipil, mendesak peningkatan akuntabilitas aparat keamanan, serta menekankan pentingnya perlindungan kebebasan sipil dalam penanganan demonstrasi.
KontraS, organisasi tempat Andrie bernaung, memang kerap mengingatkan pemerintah mengenai potensi kembalinya praktik militeristik dalam politik sipil. Pada Agustus 2025, Andrie juga terlibat aktif dalam advokasi terkait dugaan kekerasan terhadap peserta demonstrasi. Dalam berbagai forum, ia menyoroti dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat, penangkapan aktivis, serta pentingnya menjamin hak warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum.
Memasuki akhir 2025 hingga awal 2026, perhatian Andrie semakin terfokus pada rencana revisi Undang-Undang TNI. Ia menjadi salah satu aktivis yang lantang mengkritik sejumlah poin dalam wacana revisi tersebut. Menurut KontraS, isu-isu yang disorot meliputi kemungkinan perluasan jabatan sipil yang dapat diisi oleh militer, potensi melemahnya kontrol sipil terhadap institusi militer, serta kekhawatiran akan munculnya kembali praktik yang mengingatkan pada konsep dwifungsi militer.
Isu-isu krusial ini sering menjadi topik diskusi publik, seminar, dan forum advokasi yang melibatkan berbagai organisasi masyarakat sipil.
Panggilan Misterius dan Diskusi Remiliterisasi
Beberapa hari sebelum serangan, Andrie Yunus dilaporkan menerima sejumlah panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Rangkaian panggilan tersebut terjadi antara 9 hingga 12 Maret 2026. Rekan-rekan di KontraS menilai panggilan ini sebagai indikasi adanya intimidasi, meskipun identitas pihak yang melakukan kontak tersebut belum terungkap.
Pada malam 12 Maret 2026, hanya beberapa jam sebelum insiden penyiraman air keras, Andrie menghadiri rekaman podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jakarta. Dalam diskusi tersebut, ia berdialog dengan pakar hukum tata negara Zainal Arifin Mochtar. Mereka membahas isu remiliterisasi dalam politik Indonesia, proses judicial review terhadap Undang-Undang TNI, serta dampak kebijakan keamanan terhadap kualitas demokrasi.
Kronologi Serangan
Usai kegiatan podcast, Andrie Yunus pulang mengendarai sepeda motor. Namun, sekitar pukul 23.37 WIB, saat melintas di kawasan Salemba, Jakarta, ia diserang oleh dua orang tak dikenal yang juga mengendarai sepeda motor. Rekaman CCTV yang beredar luas menunjukkan salah satu pelaku menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban sebelum keduanya melarikan diri dari lokasi kejadian.
Kasus penyiraman air keras ini kini tengah dalam penyelidikan aparat penegak hukum. Insiden tersebut juga memicu perhatian luas dari organisasi masyarakat sipil dan komunitas hak asasi manusia yang mendesak pengusutan tuntas terhadap para pelaku, serta menyingkap kemungkinan adanya dalang di balik serangan tersebut.



