Di tengah hiruk pikuk pesisir utara Jawa, sebuah bangunan kuno berdiri tegak di Desa Pesindangan, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Dikenal luas sebagai Masjid Jakatawa, atau nama resminya Masjid Ciptarasa Kecil, tempat ini bukan sekadar rumah ibadah biasa. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan masjid tua yang menjadi saksi bisu jejak panjang penyebaran Islam di Bumi Cirebon.
Sebelum menjadi masjid seperti yang dikenal saat ini, lokasi tersebut memiliki sejarah yang menarik. Pada abad ke-16, tepatnya tahun 1571, sebuah bangunan sederhana berbentuk bumbung didirikan di tempat ini. Bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat persinggahan sekaligus pusat dakwah bagi para penyebar agama Islam.
Dua tokoh sentral di balik pendirian awal tempat ini adalah Syekh Bentong dan Pangeran Jakatawa. Menurut cerita tutur yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat, keduanya memainkan peran krusial dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Rumah sederhana yang mereka bangun menjadi cikal bakal sebuah pusat spiritual.
Transformasi Menjadi Masjid Permanen
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya syiar Islam, tempat bumbung sederhana tersebut bertransformasi menjadi sebuah masjid. Pembangunan kembali secara permanen dilakukan pada tahun 1952. Inisiatif ini datang dari seorang saudagar keturunan Tionghoa yang berasal dari Sumatra.
Saudagar tersebut memiliki niat tulus untuk mendirikan tempat ibadah di lokasi yang diyakini memiliki nilai sejarah tinggi dalam penyebaran Islam. Dengan demikian, Masjid Jakatawa yang kita lihat sekarang adalah hasil dari dedikasi dan keyakinan yang kuat, melanjutkan warisan spiritual dari para pendahulu.
Masjid ini memiliki ciri khas yang menjadikannya sebagai masjid keramat. Empat pilar kokoh berdiri di tengah ruang utama masjid, menjadi penopang sekaligus simbol. Arsitektur kunonya tetap dipertahankan tanpa kubah, memberikan kesan otentik dan sakral. Selain itu, kompleks masjid juga dikelilingi oleh makam-makam keramat, menambah nuansa spiritual yang mendalam.
Hingga hari ini, Masjid Ciptarasa Kecil atau Masjid Jakatawa terus menjadi pusat kegiatan keagamaan dan tradisi ziarah bagi masyarakat. Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penanda penting dalam jejak sejarah masjid-masjid tua di Cirebon yang erat kaitannya dengan perkembangan Islam di kawasan pesisir utara Jawa.




