Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan signifikan pada awal pekan ini, Selasa, 10 Maret 2026. Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi tajam mendekati 5% pada perdagangan Senin (9/3/2026). Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional, khususnya terkait potensi dampaknya pada kondisi fiskal pemerintah.

Geopolitik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak Global

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa tekanan di pasar keuangan Indonesia merupakan kombinasi dari faktor global dan domestik. Dari sisi global, Ibrahim menyoroti memanasnya kembali situasi geopolitik di Timur Tengah pasca-pergantian kepemimpinan di Iran. Kepemimpinan baru tersebut dinilai berpotensi memperpanjang konflik di kawasan yang merupakan pusat geopolitik energi dunia.

“Kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan konflik di Timur Tengah masih akan berlanjut,” ujar Ibrahim dalam keterangannya pada Senin (9/3/2026).

Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut secara langsung berdampak pada jalur perdagangan energi dunia, terutama di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak global. Jika jalur vital ini terganggu, pasokan energi dunia berpotensi mengalami tekanan besar, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga minyak mentah global.

Saat ini, harga minyak mentah jenis crude oil dan Brent crude telah mencapai sekitar 117 dolar AS per barel. Ibrahim memperkirakan harga minyak masih berpotensi meningkat jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut. Ia bahkan menilai harga minyak dunia bisa melonjak mendekati 200 dolar AS per barel apabila situasi geopolitik semakin memburuk.

“Kenaikan harga minyak ini juga akan berdampak pada komoditas energi lain seperti gas alam dan bisa memicu tekanan ekonomi global,” jelasnya.

Dampak Kenaikan Harga Minyak pada Fiskal Pemerintah

Selain faktor eksternal, pasar domestik juga menghadapi tantangan serius. Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi tekanan terhadap kondisi fiskal pemerintah Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia dapat meningkatkan beban subsidi energi secara signifikan, terutama jika pemerintah berupaya keras untuk menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) agar tidak naik drastis di dalam negeri. Hal ini berpotensi menguras anggaran negara dan memengaruhi stabilitas fiskal.