Berdiri kokoh lebih dari satu abad, Masjid Baiturrahman di Desa Sukadana, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyimpan jejak sejarah panjang syiar Islam. Masjid yang akrab disebut Masjid Si Nona ini memancarkan keunikan arsitektur yang memadukan tiga budaya besar: Jawa, Tiongkok, dan Eropa.
Saksi Bisu Sejarah dan Toleransi
Masjid Si Nona dibangun pada tahun 1920 oleh seorang keturunan Tionghoa pemilik pabrik gula, Mayor Tan Tjin Kie. Awalnya, pembangunan masjid ini ditujukan sebagai tempat ibadah bagi para buruh yang bekerja di Pabrik Gula Leuweung Gajah. Inisiatif pembangunan tersebut datang dari tokoh pergerakan Republik Indonesia, Raden Mas Satria Praja, yang kemudian mengusulkan kepada Mayor Tan Tjin Kie untuk menghibahkan bangunan tersebut sebagai tempat ibadah umat Muslim.
Harmoni Arsitektur Tiga Budaya
Keunikan Masjid Si Nona terlihat jelas dari perpaduan gaya arsitekturnya. Lantai tegel dengan motif bunga khas Eropa menghiasi bagian dalam masjid, sementara setiap sudut ventilasi udara menampilkan ciri khas Tiongkok. Perpaduan ini menciptakan estetika yang berbeda dari bangunan masjid pada umumnya.
Di bagian dalam, sembilan pintu masuk yang terbuat dari kayu jati menjadi simbol sembilan Wali Sanga, para penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Menariknya, masjid ini tidak memiliki tiang penyangga di bagian tengahnya, sebuah fitur yang jarang ditemukan pada masjid-masjid lain. Sebuah gentong antik berbentuk padasan, yang berfungsi sebagai tempat penampungan air wudu, turut menambah kekhasan masjid berusia lebih dari satu abad ini.
Cagar Budaya Kebanggaan Masyarakat
Kini, Masjid Si Nona telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Meskipun usianya telah melampaui satu abad, bangunan ini tetap berdiri kokoh dan terawat. Masyarakat setempat secara aktif memanfaatkan masjid ini tidak hanya untuk kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial. Dengan sejarah dan keunikan yang dimilikinya, Masjid Si Nona menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Sukadana.



