Serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran dilaporkan menghantam sejumlah negara di kawasan Teluk pada Sabtu (7/3/2026), menandai eskalasi signifikan dalam konflik bersenjata yang kini memasuki pekan kedua. Ledakan keras terdengar di kota-kota utama seperti Dubai (Uni Emirat Arab), Doha (Qatar), dan Manama (Bahrain), serta wilayah Arab Saudi dan Kuwait.
Peristiwa ini memicu peningkatan ketegangan regional dan kekhawatiran serius terhadap stabilitas keamanan di Timur Tengah, menunjukkan potensi perluasan konflik yang semula bersifat terbatas.
Eskalasi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk atas serangan sebelumnya. Saat itu, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan menargetkan wilayah negara-negara tersebut kecuali apabila serangan terhadap Iran diluncurkan dari wilayah mereka.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan perubahan sikap dari pemerintah Iran. Otoritas Iran kemudian menyatakan bahwa operasi militer akan tetap dilanjutkan terhadap lokasi-lokasi di negara Teluk yang dianggap memberikan dukungan kepada pihak yang memusuhi Iran. Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa fasilitas yang dinilai menjadi bagian dari dukungan militer terhadap lawannya akan tetap menjadi target serangan.
Situasi keamanan yang memburuk mendorong Uni Emirat Arab mengeluarkan pernyataan resmi yang jarang terjadi. Presiden UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, menyampaikan melalui siaran televisi nasional bahwa negaranya saat ini berada dalam kondisi yang dapat digambarkan sebagai “periode perang”.
Dalam pidatonya, Sheikh Mohammed mengakui bahwa negara tersebut sedang menghadapi masa yang sangat sulit, tetapi tetap menyatakan keyakinan bahwa UEA akan mampu melewati krisis ini dan keluar dalam kondisi yang lebih kuat.
Di Dubai, otoritas setempat melaporkan adanya korban jiwa akibat serpihan dari proses pencegatan serangan udara. Korban diketahui merupakan seorang warga negara Pakistan. Pada hari yang sama, Bandara Internasional Dubai, yang merupakan bandara tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional, sempat menghentikan operasionalnya setelah terdeteksi objek tak dikenal di sekitar wilayah bandara.



