Manajemen Persebaya Surabaya mengambil langkah tegas dengan menutup Tribun Utara Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) hingga akhir musim kompetisi 2026. Keputusan ini merupakan respons terhadap insiden penggunaan petasan dan nyanyian bernada rasis dari oknum suporter saat laga melawan Persib Bandung.

Insiden tersebut terjadi dalam lanjutan kompetisi Liga 1 Indonesia. Sejumlah oknum suporter dilaporkan menyalakan petasan di area Tribun Utara, yang tidak hanya mengganggu jalannya pertandingan tetapi juga menciptakan situasi tidak kondusif di dalam stadion. Selain itu, laporan juga mencatat adanya nyanyian yang mengandung unsur rasisme dan ujaran kebencian yang ditujukan kepada tim lawan.

Manajemen Persebaya menilai tindakan tersebut mencederai nilai sportivitas dan berpotensi merusak citra sepak bola Indonesia. Oleh karena itu, langkah nyata dianggap perlu untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Dengan kebijakan ini, Tribun Utara GBT akan dikosongkan mulai April 2026. Artinya, tidak ada penonton yang diizinkan menempati area tersebut selama sisa pertandingan kandang Persebaya musim ini.

Pihak klub menjelaskan bahwa keputusan ini bukan semata-mata bentuk sanksi, melainkan juga bagian dari upaya edukasi bagi suporter. Tujuannya adalah agar suporter senantiasa menjaga ketertiban dan menghormati nilai-nilai fair play dalam sepak bola. Persebaya berharap langkah ini dapat menjadi pengingat bahwa dukungan kepada tim harus dilakukan secara positif tanpa melanggar aturan.

Selain itu, manajemen klub menyatakan akan terus berkoordinasi dengan aparat keamanan serta pihak penyelenggara liga guna memastikan setiap pertandingan berjalan aman dan nyaman bagi semua pihak. Persebaya juga mengajak seluruh suporter setia untuk tetap memberikan dukungan secara sportif dan bertanggung jawab.

Penutupan tribun ini diperkirakan akan memengaruhi atmosfer pertandingan di stadion, mengingat Tribun Utara selama ini dikenal sebagai salah satu sektor yang paling aktif dalam memberikan dukungan kepada tim kebanggaan Kota Surabaya. Namun, manajemen menegaskan bahwa menjaga keamanan, kenyamanan, dan citra sepak bola nasional adalah prioritas utama. Mereka berharap insiden ini menjadi momentum untuk lebih menghargai sportivitas dan menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih sehat di Indonesia.