Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan terobosan dalam pengembangan produk turunan minyak atsiri lokal, termasuk parfum dari kemenyan dan cengkeh. Inovasi ini diharapkan mampu menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku kosmetik yang saat ini mencapai 80 persen.
Potensi Besar Minyak Atsiri Lokal
Indonesia selama ini dikenal sebagai pengekspor kemenyan mentah hingga 5-8 ton per tahun dengan nilai triliunan rupiah. Ironisnya, produk tersebut kemudian dibeli kembali dalam bentuk parfum jadi yang diproduksi di Eropa.
Dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026 yang digelar di Jakarta pada Kamis (26 Februari 2026), peneliti Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) BRIN, Aswandi, memaparkan sejumlah inovasi. Produk-produk tersebut meliputi parfum berbasis kemenyan dan kapur barus, hingga serum wajah yang menggunakan bahan dasar nilam.
Aswandi menyoroti disparitas nilai yang signifikan. “Parfum kemenyan di Paris dijual minimal Rp5 juta per botol, sementara bahan bakunya berharga sekitar Rp200 ribu,” jelasnya.
Parfum kemenyan hasil riset BRIN, yang telah memiliki Paten No. S00202314472, mengandung senyawa Bornyl acetate dan Linalool. Kombinasi ini memberikan karakter aroma kayu, bunga, dan jeruk, sekaligus menawarkan khasiat aromaterapi.
Inovasi serupa juga dilakukan pada kapur barus. Satu kilogram kristal alami dari pohon Dryobalanops aromatica kini dapat mencapai harga Rp100 juta. Permintaan dari industri parfum di Paris saja dilaporkan mencapai 200 ribu ton per tahun.
Namun, pasokan menjadi kendala utama akibat kerusakan hutan. Oleh karena itu, BRIN juga aktif dalam upaya konservasi populasi pohon kapur yang baru ditemukan di Sumatera Utara.
Selain itu, BRIN melalui situsweb resminya, turut mengembangkan parfum berbasis cengkeh dengan merek “Clowee”. Riset menunjukkan bahwa karakter aroma cengkeh Indonesia bervariasi di setiap daerah, dengan Maluku, Manado, dan Sumatera masing-masing menghasilkan profil senyawa yang unik.
Dorong Kemandirian Industri Kosmetik
Tidak hanya parfum, BRIN juga mengembangkan pewangi ruangan alami (reed diffuser) dan produk perawatan kulit berbasis teknologi nano-emulsi dari minyak kemenyan dan nilam. Pengembangan ini menjadi krusial mengingat sekitar 80 persen bahan baku kosmetik Indonesia masih diimpor, sebagian besar bahkan berasal dari bahan mentah yang sebelumnya diekspor murah dari Indonesia sendiri.
Kepala PRBT BRIN, Muhammad Imam Surya, mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan dari Prancis dan Eropa telah menyatakan minat untuk menggunakan produk-produk inovatif ini.



