Langit politik Jawa Barat mendadak bergejolak. Mantan Bupati Indramayu, Nina Agustina, secara mengejutkan mengumumkan kepindahannya ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) setelah muncul dari kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Solo pada Kamis, 26 Februari 2026. Keputusan ini menandai babak baru dalam perjalanan politiknya, sekaligus mengakhiri kiprahnya di PDI Perjuangan yang selama ini mengusungnya.

Kabar ini sontak menarik perhatian publik, mengingat Nina Agustina dikenal luas sebagai kader PDI Perjuangan yang berhasil memimpin Indramayu. Namun, dinamika politik rupanya bergerak cepat, membawa Nina pada pilihan yang tak terduga.

Restu Jokowi dan Pernyataan Resmi

Didampingi Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hapidin, Nina Agustina tampak santai saat memberikan pernyataan kepada awak media. “Alhamdulillah bisa silaturahmi dengan bapak. Dulu kan bapak ke Indramayu saat panen raya, dua kali beliau hadir. Mudah-mudahan Indramayu akan lebih baik lagi,” ujarnya, mengisyaratkan adanya hubungan baik yang terjalin.

Abang Ijo Hapidin kemudian memperjelas makna pertemuan tersebut. Ia secara lugas menyebutkan adanya restu langsung dari Presiden Joko Widodo bagi Nina untuk bergabung dan membesarkan PSI di Jawa Barat. “Ya restunya Bu Nina bergabung bersama kita membesarkan PSI di Jawa Barat,” kata Abang Ijo.

Latar Belakang Politik dan Keluarga

Perpindahan Nina Agustina menjadi sorotan bukan tanpa alasan. Ia merupakan figur penting di kancah politik lokal dan nasional, putri dari mantan Kapolri Da’i Bachtiar serta kakak dari Wakapolda Jawa Barat Adi Vivid Bachtiar. Latar belakang keluarga yang kuat di lingkungan elite keamanan membuat setiap langkah politiknya selalu menjadi perhatian.

Keputusan ini juga terjadi tak lama setelah Pilkada Indramayu terakhir yang penuh tensi. Dalam kontestasi tersebut, Nina Agustina harus mengakui kekalahannya dari penantangnya, Lucky Hakim, yang diusung Partai NasDem. Kekalahan itu mengakhiri masa kepemimpinannya di Indramayu dan memicu refleksi politik yang mendalam.

Implikasi bagi PSI di Jawa Barat

Banyak pihak sebelumnya mengira Nina akan tetap bertahan di PDI Perjuangan untuk membangun kembali kekuatan. Namun, politik selalu menyimpan kejutan. Kepindahan ke PSI bukan sekadar mencari kendaraan politik baru, melainkan juga sinyal reposisi strategis di peta politik Jawa Barat.

PSI sendiri diketahui tengah gencar memperluas pengaruhnya di provinsi dengan lumbung suara besar ini. Dengan bergabungnya figur sekelas Nina Agustina, seorang mantan kepala daerah dengan jaringan birokrasi dan basis massa yang jelas, PSI dinilai telah menemukan amunisi strategis untuk memperkuat posisinya di Jawa Barat, yang kerap menjadi penentu arah politik nasional.