Olimpiade Musim Dingin XXV Milano Cortina 2026 telah resmi dibuka pada 6 Februari 2026, menandai babak baru dalam penyelenggaraan pesta olahraga es global. Ajang yang berlangsung hingga 22 Februari 2026 ini tidak hanya menjadi panggung bagi ribuan atlet dari sekitar 90 negara untuk unjuk gigi, tetapi juga sorotan atas upaya Italia dalam menciptakan Olimpiade yang paling ramah lingkungan dalam sejarah. Namun, di balik kemegahan arena dan inovasi teknologi, perhelatan akbar ini dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks, mulai dari , tarikan politik internasional, hingga isu logistik yang mendebarkan.

Ambisi Keberlanjutan di Tengah Krisis Iklim

Penyelenggaraan Milano Cortina 2026 mencatat sejarah dengan memanfaatkan 92% fasilitas yang sudah ada atau bersifat sementara, sebuah langkah drastis untuk meminimalkan jejak karbon dan menghindari pemborosan anggaran. Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, menegaskan komitmen ini sebagai adaptasi wajib di era modern. Kita harus bergerak sangat cepat untuk mengatasi dampak dramatis perubahan iklim terhadap olahraga musim dingin. Milano Cortina 2026 adalah jawaban nyata bagaimana sebuah ajang besar bisa tetap megah tanpa mengorbankan masa depan planet kita,” ujar Bach. Selain itu, penyelenggara menerapkan penggunaan 100% energi terbarukan bersertifikat dan sistem transportasi rendah karbon.

Namun, tantangan iklim tetap membayangi. Penurunan curah salju alami di Pegunungan Alpen memaksa ketergantungan pada yang mencapai lebih dari 3 juta yard kubik. Proses ini membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar, menimbulkan kekhawatiran lingkungan baru. Riset terbaru bahkan memprediksi bahwa hanya 52 dari 93 lokasi potensial tuan rumah Olimpiade Musim Dingin yang akan memiliki kondisi iklim andal pada 2050-an.

Tarikan Politik dan Isu Keamanan

Olimpiade Musim Dingin 2026 tidak luput dari bayang-bayang politik global. Kontroversi muncul terkait rencana keterlibatan agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) dalam operasi keamanan, yang memicu protes publik dan politisi Italia. Wali Kota Milan, Giuseppe Sala, secara tegas menolak kehadiran ICE, menyebutnya sebagai “milisi yang membunuh.” Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan politik antara AS dan beberapa negara Eropa.

Isu hak asasi manusia juga kembali menjadi sorotan, mengingatkan pada Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 yang menghadapi boikot diplomatik dari sejumlah negara atas tuduhan pelanggaran HAM terhadap minoritas Uighur. Di Milano Cortina 2026, perdebatan politik AS-Tiongkok dipicu oleh atlet ski gaya bebas Amerika, Hunter Hess, yang mengkritik kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump, dan mendapat dukungan dari atlet Tiongkok, Eileen Gu. Hal ini memicu perdebatan tentang identitas dan loyalitas atlet di tengah ketegangan geopolitik.

Tantangan Logistik dan Infrastruktur

Penyelenggaraan Milano Cortina 2026 yang mengusung konsep multi-kota dengan cakupan geografis luas menghadirkan tantangan logistik yang signifikan. Jarak antar lokasi pertandingan yang bisa mencapai ratusan kilometer menuntut perencanaan perjalanan yang presisi. Meskipun memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, sejumlah proyek infrastruktur transportasi seperti jalan raya dan terowongan masih berpacu dengan waktu menjelang pembukaan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan kemacetan dan keterlambatan operasional.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Olimpiade Musim Dingin 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang prestasi olahraga, tetapi juga menjadi warisan keberlanjutan dan inovasi bagi masa depan olahraga global.