Masa Pendidikan Bung Karno, Contoh yang Perlu di Teladani untuk Anak Muda Masa Kini

  • Bagikan
Masa Pendidikan Bung Karno Contoh yang Perlu di Teladani untuk Anak Muda Masa Kini
Ilustrasi Foto Sukarno (Istimewa)

Masa Pendidikan Bung Karno, Contoh yang Perlu di Teladani untuk Anak Muda Masa Kini

Oleh: Andriyanto


KilatNews.Co – Bung karno lahir pada tahun 1901, di mana pada abad ke 19 merupakan zaman yang gelap. Pada abad itu adalah abad satu zaman munculnya bangsa-bangsa baru merdeka di benua asia dan afrika, serta berkembangnya negara-negara sosialis yang meliputi sejuta manusia.

Pada masa lahirnya Bung Karno, ada dua fenomena abad, yaitu abad atom dan fenomena ruang angkasa. Mereka yang dilahirkan dalam abad itu terikat oleh kewajiban untuk menjalankan tugas-tugas kepahlawanan.

Bung Karno dilahirkan pada tangal 6 juni yang artinya zodiak beliau adalah gemini, lambang anak kembar. Dengan berzodiak gemini, Bung Karno memiliki dua sifat yang sangat bertentangan. Dengan dua sifat ini, Bung karno sikapnya terkadang bisa lemah-lembut, atau bisa juga rewel keras bagaikan baja, bahkan puitis penuh dengan perasaan. Kepribadian Bung karno merupakan perpaduan dari pikiran dan emosi.

Tidak hanya dua fenomana itu saja, saat Putra Sang Fajar dilahirkan juga terjadi bencana alam, Gunung Kelud yang letaknya tidak jauh dari kediaman beliau meletus. Orang-orang yang percaya adanya ilmu gaib mereka meramalkan “ ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno”. Selain itu, ada pula yang mengatakan gunung kelud sebenernya tidak menyambut kehadiran beliau, melainkan menunjukan kemarahan atas kelahiranya.

Bung Karno dilahirkan dari dua keturunan, yaitu keturunan Bali dan Jawa. Ibu Idayu, Ibu Bung Karno merupakan keturunan dari kasta Brahmana, keturunan bangsawan. Dan Ayahnya Raden Sukemi Sosrodiharjo juga keturanan bangsawan, sebab Raden sendiri adalah gelar kebangsawanan, karena Ayah Bung karno berasal dari pulau jawa dan keturunan sultan kediri.

Pada tahun 1949, saat Indonesia baru merdeka. Negara Belanda membuat dan menyebarkan berita bohong lewat surat kabar. Surat kabar mengakui bahwa “Sukarno adalah orang yang penuh semangat, dinamis dan berlainan sama sekali dengan tipologi orang jawa yang lamban dan lambat berpikir.” Sang penulis saat itu melanjutkan “Sukarno bukanlah orang pemalu. Sukarno dapat berbicara dengan lancar dalam tujuh bahasa. Kita harus menghadapi kenyatan-kenyatan dan kenyataanya, sukarno sebenarnya seorang pemimpin”.

Pada saat itu, semua sifat yang baik tentang Bung karno di tampilkan dalam artikel surat kabar itu, namun Bung Karno dengan cepat menyadari maksud dari tulisan “tahukah anda mengapa sukarno memiliki sifat yang luar biasa itu? Karna soekarno bukalah orang indonesia asli, itulah penyebanya. Dia adalah anak haram dari seorang tuan kebun dari perkebunan kopi yang melakukan hubungan gelap dengan seorang buruh perempuan pribumi, kemudian menyerahkan bayi itu untuk di adopsi orang lain”.

Sayanya pada saat itu saksi satu-satunya hanyalah ayah Bung karno yang pada saat itu berani bersumpah tentang siapa sejatinya Bung Karno, bahwa Bung Karno di lahirkan oleh Ibunya bukan oelh pekerja di perkebunan kopi yang sudah lama meninggal.

Sebelum Bung karno memperjuangkan Indoensia merdeka. Kerajaan-kerjaan yang di Indonesia sudah lebih dulu mempertahankan tanah pusaka kita, yaitu indonesia. Kerajaan Singaraja adalah kerjaan moyang Bung Karno dari pihak Ibu merupakan pejuang-pejuang kemerdekaan yang penuh semangat.

Perang Puputan pun terjadi di suatu daerah, di pantai Bali, di sana terletak kerjaan Moyang Bung Karno, yaitu Raja Singaraja. Waktu itu telah berkobar pertempuran senggit dan bersejarah melawan penjajah. Raja singaraja terakhir secara licik disingkirkan oleh Belanda. Kerajaan, harta, istana tanah serta semua miliknya di rampas. Dengan cara Belanda mengundang Kerjaan Singaraja ke sebuah kapal perang mereka untuk berunding, begitu sampai di atas kapal belanda menangkap secara paksa, lalu mengasingkan ke tempat pembuangan.

Setelah Belanda menduduki istananya dan merampas miliknya, keluarga Ibu Bung Karno jatuh melarat. Karna itu kebencian Ibu Bung Karno terhadap Belanda tak Habis-habisnya. Tidak hanya dari sang ibu Nenek dari pihak sang Ayah Bung Karno adalah seorang pejuang pendamping pahlawan besar kami Diponogoro Pada Tahun 1825 sampai tahun 1830.

Surabaya adalah kota kelahiran Bung karno di sanalah Sang Poklamator di lahirkan setelah kedua orang tuanya pindah dari Bali ke Pulau Jawa. Nama Bung Karno pada masa kecil bukalah Soekarno tetapi Kusno karna beliau sakit-sakitan pada saat itu maka namanya di ganti oleh sang Ayah. Yang kebetulan Ayah Bung Karno pengemar Mahabbrata, cerita klasik Hinddu zaman dahulu.

Ayah Bung karno berkata “engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar dalam mahabbrata”. Nama Karno dan Karno sama saja. Dalam bahasa jawa huruf “ A” di baca “O”. Awalan “ SU” bearti baik, paling baik. Jadi Soekarno berarti pahlawan yang terbaik.

Pada zaman Bung karno anak Indoneisa tidak dapat menunjukan keunggulanya, salah satunya di perkumpulan sepakbola, pada saat itu Bung karno tidak dapa menjadi ketua, bahkan Bung Karno tidak dapat mempertahankan keanggotanya, karana sebagian dari perkumpulan itu anak Orang Belanda yang tidak suka dengan anak pribumi.

Anak anak Belanda tidak pernah mau bermain dengan anak pribumi. Karena mereka adalah orang barat yang memiliki kulit putih salju, yang murni, yang baik dan mereka memandang rendah kepada anak-anak pribumi atau inlander.

Pada klub Sepakbola itu Bung Karno punya pengalaman pahit, yakni hinaan dari anak-anak Belanda berambut jagung menjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak “ He, Kamu Brownie!..He, anak kulit coklat yang tolol dan malang…Pribumi…inlander….anak kampung… hei, kamu lupa memakai sepatu…” bahkan bayi-bayi kecil berambut pirang itu sudah tahu meludahi Bung Karno dan anak – anak Pribumi, karna pelajaran pertama yang di berikan oleh orang tuanya kepada anak Belanda adalah meludahi anak Pribumi saat mereka lahir.

Ketika Bung karno naik ke kelas lima, Bapa Belau memberi sedikit wancana tentang mengirimkanya ke sekolah tinggi Belanda, karna Bung Karno teringat oleh hinaan pada saat di klu sepakbola Bung Karno Bertanya kepada sang Ayah “Apakah aku tidak dapat meneuskan di belajar di sekolah pribumi?” Ucap Bung karno Kepada Sang Ayah “Pendidikan untuk pribumi hanya kelas lima. Tidak lanjut tampa lulus dari sekolah Rendah Belanda, seorang pribumi dengan sendirinya tidak akan bisa masuk Sekolah Menengah Belanda dan tampa Ijazah ini orang tidak bisa masuk Sekolah Tinggi Belanda”. Jawab Sang ayah Bung Karno. Ketika tiba waktunya Bung karno masuk ke sekolah menengah yang menjadi pintu masuk ke perguruan tinggi, Hogere Burger School di Surabaya. Bung Karno di kirim ke rumah H.O.S Cokroaminoto, teman sang Ayah Bung karno.

Di tahun 1917 Ayah Bung Karno di pindahkan ke Blitar. Di sanah dia mendapatkan gaji yang lebih tinggi, hingga dapat memberika uang saku untuk Bung Karno selama berada di rumah pak Cokro yang sedang menempuh pendidikan sekolah di HBS di Surabaya. Kegiatan sekolah Bung Krarno di HBS di muali dari jam tujuh pagi hingga jam satu siang, enam hari dalam seminggu. Tengah hari ada jam istirahat dimana setiap murid ketika itu membeli jajanan atau bermain-main, tetapi anak-anak Belanda memisahkan diri dari anak-anak Pribumi. Merka berusaha untuk tidak timbul persahabatan di dengan anak-anak pribumi. Mereka pun berusaha agar hidung anak pribumi selalu berdarah. Suatu ketika Bung Karno masuk, seorang anak yang sok hebat, mengenakan celana putih yang baru dan kaku, seragam wajib pada tahun pertama, berdiri menghalangi jalankan dan mengejek, “Minggir, anak inlander!” ketika Bung karno berdiri di situ dia melepaskan tinjuanya tepat di hidung sang proklamator hingga berdarah.

Bung Karno Lulus dari HBS pada tanggal 10 Juli 1921. Ketika itu usia Bung Karno Berumur 20 Tahun, belau berencana pergi ke Negara Belanda untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi dengan harapan untuk masa depanya lebih baik, namun harapan itu mushnah begitu saja karna sang ibu tidak mengijinkan Bung Karno Pergi ke Negara Belanda untuk Menempuh Pendidikanya di sanah, hingga Bung Karno memohon untuk sang ibu agar megijinkan Belau pergi ke Negara Belanda, karna anak yang lulus dari sekolah HBS bisa pergi dengan sendirinya untuk meneruskan pendidikan di negara Belanda. Tetapi lain hal dengan Bung Karno, karena tidak mendapat ijin dari sang Ibu, Bung karno akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perguruan tingginya di Bandung.

Pada Bulan Juli 1921 Bung Karno Berangkat Ke Bandung pada masa itu Bandung di juluki Kota Priceton kota pelajar, setelah sampai di sanah bung karno tinggal di salah satu temanya Pak Cokro yaitu Haji Sanusi di sanalah lah beliau tinggal selama menempuh pendidikan perguruan Tinggi.

Bung Karno memasuki Sekolah Teknik Tinggi Pada saat itu jumlah mahasiswa pribumi hanya 11 orang, termasuk Bung Karno, di tengah lautan kulit putih, berambut merah, muka berbintik-bintik dan bermata seperti kucing. Lagi-lagi kejadian pelecehan terhadap anak pribumi selalu di dapat oleh anak-anak belanda, kalaupun mereka memberi perhatian itu hanya hinaan yang selalu mereka lontarkan kepada anak-anak pribumi.

Marhaenisme adalah sebutan bung karno untuk rakyat yang bernasib malang seperti petani muda yang belau wawancarai keteika belau sedang pergi ke suatu daerah atau desa di bandung. Di bandung belau pun selalu memikirkan politik dan selalu memperjuangkan kemerdekaan untuk rakyat indonesia, sampai pada tahun 1922 ketika itu sedang ada rapat besar di sebuah lapangan yang di ikuti seluruh organisasi kebangsaan, sehingga pada wakil-wakil dari setiap partai berkumpul untuk bersatu dengan satu tujuan memperotes pemerintahan Belanda, ketika itu semua pemimpin berpidato lalu bung karno pun mengangkat tanganya untuk meminta ijin kepada ketua agar diberikan kesempatan berpidato, tak lama bung karno berpidato para polisi belanda itu lalu membubarkan rapat dan bertindak.

Selama Bung Karno kuliah di sanah memakai bahasa Belanda, hingga saat mengemukakan pemikiran Bung Karno menggunakan Bahasa Belanda, selain menggunakan bahasa belanda kurikulumpun di samakan dengan kebutuhaan masyarakat pemerintahan jajahan. Ilmu yang belai pelajari merupakan ilmu untuk kepentingan kaum kapitalis, misalnya pengetahuan tentang sistem pengairan, tetapi ini bukan untuk sistem bagaiman untuk mengairi sawah melaikan untuk tanaman tebu dan tembakau. Tentu saja itu adalah kepentingan imperialisme dan Kapitalisme jadi irigasi bukan untuk memberi malkan rakyat yang kelaparan, mealinkan untuk membuat pemilik kebun gendut.

Pelajaraan membuat jalan pun tidak mungkin menguntungkan rakyat Indonesia. Tidak hanya itu, Bung Karno pun mendapatkan pelajaran mengenai ilmu jalan tambahan sepanjang pantai dari pelabuan ke pelabuan, sehingga pabrik-pabrik dapat mengangkut barang dan komunikasi yang cukup anatar kapal-kapal yang berlayar. Pelajaran matematika hanya mempelajari sebuah pita yang panjang 20meter yang hanya di pakai olej para pengawas buruh di perkebunan, membuat bagan membuat rencana model.

Pada hari minggu Bung karno wisuda berdiskusi dengan salah satu raktor magnifucus dari sekolah teknik tinggi yaitu Profesor Ir. G. Klopper M.E di sanah bung karno bertanya “Mengapa kami di jajal dengan pengetahuan-pengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi kolonialis terhadap kami? “Ujar Bung Karno “lalu Profesor Menjelaskan “didirikan terutama untuk memajukan politik Den Haag di Hindia.

Agar dapat mengikuti kecepatan ekspensi dan exspoloritas, pemerintah kami merasa perlu untuk mendidik lebih insinyur dan pengawas yang berpengalaman” dengan katalain mengapa anak pribumi di ajarkan memasuki perguruan tinggi pertama-tama untuk memungkinkan Belanda untuk mengkekalkan politik imperlisme dan itulah kenyataanya.

Pada tanggal 25 mei 1926 Bung Karno di wisudakan dengan dua orang teman bung karno orang indonesia berhasil lulus bersama Bung Karno, dengan gelar “Ingenieur” dalam jurusan Teknik Sipil menyebutkan merupakan spesialis dalam pekerjaan jalan raya dan pengairan. Ketika Bung Karno di berikan ijazah ketua Raktor berkata “Ir. Soekarno, ijzah ini suatu saat dapat robek dan hancur menjadi abu. Dia tidak abadi ingatlah, bahwa suatu saat hal ini yang abadi adalah karakter seseorang. kenangan kararakter itu akan tetap hidup sekalipun dia mati.” Dan Bung Karno Selalu Mengingatnya perkataan itu hingga belau memperjuangkan kemerdekaan ini dengan karaktern belau sendiri dengan kegigihan, semnagat patriot untuk satu tujuan yaitu Indonesia merdeka.

Untuk anak muda calon-calon Insiyur saat ini wajib bersukur, kita semua menempuh pendidikan dalam keadaan Indoensai sudah merdeka dan pelajaran yang di dapat dari cerita bung karno saat menempuh pendidikan di masa Kolonialis banyak sekali dari kegigihan, keberanian, semangat, selalu patuh kepada orang tua, itu sangat lah penting kita tanam kepada anak muda saat ini mengapa demikian, karna dengan semangat kita mengejar suatu tujuan kita dapat memberikan hasil yang terbaik dan memetik buah hasil dari usaha kita seperti Bung karno Lakukan saat Beliau Menempuh Masa.

Pendidikanya, meski pendidikan yang di dapat tidak sama sekali menguntungkan untuk rakyat Indonesia tetapi Bung Karno selalu taati dan pelajari, karna di balik pelajaraan yang ia pelajari suatu saat akan bermanfaat untuk Inodnesia dan akan menjadi Ilmu yang tidak akan bisa di lupakan.

Semangat Patriot adalah kunci untuk Indonesia semakin maju dan semangkin berkembang jika kita memiliki sifat seperti Bung Karno karna Bangsa Indoensia akan maju dan bangkit seperti negara-negara lainya.


Andriyanto. Penulis adalah Mahasiswa Prodi Arsitektur, Universitas Bung Karno, Jakarta

  • Bagikan