Sastra sebagai Alat Komunikasi Siswa Di Sekolah

  • Bagikan
Sastra sebagai Alat Komunikasi Siswa Di Sekolah

Sastra sebagai Alat Komunikasi Siswa Di Sekolah

Oleh : Naswah Mirzanty


KilatNews.Co – Berkomunikasi dapat dikatakan sebagai suatu kebutuhan pokok bagi setiap individu. Dalam berkomunikasi kita dapat menyampaikan pesan, saran, dan perintah. Komunikasi sendiri dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya komunikasi secara lisan, tertulis, verbal, nonverbal, dan lain sebagainya.

Menurut James A. F. Stoner, komunikasi ialah suatu proses pada seseorang yang berusaha untuk memberikan pengertian serta informasi dengan cara menyampaikan pesan kepada orang lain. Berkomunikasi secara lisan tentunya sudah menjadi sesuatu yang umum bagi para siswa di sekolah. Namun, tak ayal ada juga siswa yang berkomunikasi secara tertulis. Salah satunya dengan cara menyampaikan pesan, saran, kritik lewat media sastra.

Apa sih sastra itu? Sastra adalah ungkapan ekspresi manusia yang berupa karya tulisan maupun lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga ke perasaan. Sastra merupakan suatu komunikasi seni yang hidup berdampingan bersama bahasa. Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa dan sastra merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam kebudayaan manusia. Karya sastra sebagai proses komunikasi menyediakan pemahaman yang sangat luas.

Baca Juga:

Sastra Memberi Kehidupan

Sebuah naskah sastra sendiri pada umumnya ditulis dalam bentuk sebuah teks. Hal ini dikarenakan teks merupakan bagian yang paling utama. Teks sediri merupakan perwujudan struktur yang abtraks. Karena itu, karya sastra sebagai sebuah teks dinilai sebagai objek final dan bisa ditafsirkan.

Sastra menjadi bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat di mana ia hidup (Sunardi, 2004:14). Selanjutnya Dr. Nyoman Kutha Ratna mengatakan bahwa komunikasi sastra merupakan komunikasi tertinggi. Sebab, melibatkan mekanisme unsur-unsur yang paling luas. Hubungan karya sastra dengan masyarakat merupakan kompleksitas hubungan yang bertujuan untuk saling menjelaskan fungsi-fungsi perilaku sosial yang terjadi pada saat-saat tertentu (Ratna, 2003 :137).

Sebelum menjadikan sastra sebagai alat komunikasi, tentunya para siswa haruslah menggali pengetahuannya terhadap sastra, bagaimana bentuknya, dan apa fungsinya. Dewasa ini, pengajaran sastra di sekolah sudah mulai diberlakukan. Sastra menjadi sesuatu pembelajaran yang sangat penting di sekolah. Alasan utama mengapa pembelajaran sastra di sekolah menjadi penting karena peserta didik adalah tulang punggung bangsa. Di sekolah, pembelajaran yang mengandung sastra dimasukan ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Baca Juga:

Peran Serta Guru, Media Massa, dan Sastra

Meskipun pembelajaran sastra di sekolah dapat dikatakan belum berjalan dengan sempurna, tetapi peran serta guru tidak pernah luput dalam mengajarkan arti sastra bagi para siswanya. Guru berupaya agar siswanya menjadi paham akan sastra dengan menggunakan metode-metode yang sedemikian rupa. Metode pengajaran sastra yang digunakan guru bervariasi. Metode itu di antaranya adalah ceramah, diskusi, tugas belajar, simulasi, latihan, sosiodrama, dan tanya-jawab.

Bahasa dan sastra menjadi satu kepaduan untuk menciptakan siswa yang komunikatif terhadap perkembangan zaman. Selain terkandung esensi dasar komunikasi yaitu penyampaian pesan (dari sender ke receiver), karya sastra memungkinkan terjadinya dialog kultural yang merupakan persemaian dari munculnya bentuk-bentuk kebudayaan baru. Karya sastra sebagai sebuah seni (bermedium bahasa) mempunyai kapasitas untuk menerobos tembok pemisah antarmanusia; dan karya sastra sebagai seni komunikasi memiliki kapasitas yang lebih besar untuk mempengaruhi manusia dan kebudayaannya.

Dalam kenyataannya, komunikasi yang terjadi di sekolah juga dilaksanakan baik komunikasi internal dalam sekolah, maupun komunikasi eksternal di luar sekolah. Komunikasi internal dilakukan oleh warga sekolah di dalam lingkungan sekolah (termasuk dengan komite sekolah), baik komunikasi ke atas, komunikasi ke bawah, komunikasi horisontal maupun komunikasi diagonal. Sedangkan komunikasi eksternal dilaksanakan terkait dengan komunikasi (hubungan) sekolah dengan masyarakat pendidikan (stakeholder).

Bentuk komunikasi yang dilakukan oleh siswa dengan menggunakan media sastra dapat dilihat dari hasil karya-karya yang telah dicipakannya. Mengerahkan pikiran serta kreativitasnya, siswa berupaya untuk menghasilkan suatu karya sastra yang ciamik, seperti misalnya puisi, cerpen, teks drama, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dari mengekspresikan diri dengan maksud menyampaikan pesan, isi hati, keresahan yang dalaminya untuk disampaikan kepada temannya yang bisa juga disebut sebagai pembacanya.

Dengan adanya kreativitas para siswa itu lah, sastra dapat berkembang di sekolah. Peran serta guru pun tak luput dari pengawasan perkembangan sastra di sekolah. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk melestarikan komunikasi sastra yang dilakukan oleh siswa yaitu dengan cara mengadakan pementasan puisi, drama, maupun yang lainnya.

Baca Juga: 

Tantangan Sastra Lisan Di Era Digital

Dengan begitu, para siswa diharapkan dapat menggunakan sastra sebagai media komunikasi secara terus menerus. Budaya menulis karya sastra di lingkungan lembaga pendidikan dapat dikembangkan sejak dini mulai dari tingkat Sekolah Dasar. Jadi, pada saat siswa berpindah jenjang pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, siswa sudah terbiasa untuk menulis karya sastra.

Oleh sebab itu, diharapkan sekolah dapat lebih kreatif memanfaatkan potensi siswa dalam menulis karya sastra. Tidak akan adil jika hanya menyalahkan guru dalam menurunnya minat siswa dalam menulis karya sastra. Pihak sekolah pun juga ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan sastra terutama untuk meningkatkan keterampilan menulis karya sastra oleh siswanya.

Apabila sekolah lebih kreatif lagi untuk memanfaat potensi siswa dalam hal menulis karya sastra maka perkembangan keterampilan menulis karya sastra sebagai bentuk komunikasi siswa dapat terasah dengan baik.


Naswah Mirzanty. Penulis adalah Mahasiswi Aktif Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tinjauan Pustaka

Hidayat, Arif. 2009. Pembelajaran Sastra di Sekolah. Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan INSANIA Vol. 14 No. 2.

Ratna, Ellya dan Abdurrahman. 2003. Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (Buku Ajar). Padang: FBSS UNP.

Sunardi. 2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta : Penerbit Buku Baik Yogyakarta.

  • Bagikan