Kaum Oposan Harus Belajar Kepada Gadis Cilik Ini Untuk Membuat Jokowi Bertekuk Lutut

  • Bagikan
Kaum Oposan Harus Belajar Kepada Gadis Cilik Ini Untuk Membuat Jokowi Bertekuk Lutut
Ilustrasi: Peggy und Marco Lachmann-Anke dari Pixabay
Kaum Oposan Harus Belajar Kepada Gadis Cilik Ini Untuk Membuat Jokowi Bertekuk Lutut
Oleh : Agung Wibawanto
KilatNews.Co – Sekian  tahun mencoba dan berusaha keras bahkan dengan segala cara, kelompok oposisi belum berhasil membuat Jokowi berlutut. Kiranya oposisi harus belajar banyak kepada Bulan Karunia Rudianti, seorang gadis cilik (11 th, ketika itu) dan difabel (tanpa kedua kaki). Karena sekian tahun kaum oposan tidak berhasil, menandakan ada yang salah dalam metode atau  cara pencapaiannya.

Jika kita membayangkan, betapa kuat dan perkasanya Bulan hingga bisa membuat presiden bertekuk lutut di hadapannya dan dihadapan orang banyak bahkan ditonton warga dunia di YouTube. Ia membuat iri oposisi yang terdiri dari banyak tokoh berlatar belakang profesi dan jabatan penting. Mereka yang memiliki kelebihan anggota badan, kekuatan modal bahkan kekuasaan dibanding Bulan seorang diri.

Kurang apa mereka yang sungguh melebihi dari seorang Bulan? Mau tahu jawabannya? Berikut jawabannya. Selain fakta handicap pada diri Bulan, ternyata ada hal yang dimiliki Bulan tapi tidak dimiliki orang lain yakni kepribadian baik seorang anak dalam melihat masalahnya dan cara mengatasinya. Seharusnya kita menjadi malu karena memiliki segala kelebihan dibanding Bulan tapi tidak mampu berbuat seperti yang Bulan lakukan.

Baca Juga: 

Spirit of Papua: Kelasnya Pigai Jauh Di Bawah Alffy Rev

Ia tampil polos apa adanya tanpa pretensi apapun (apalagi berbau politik kepentingan), yang memang menjadi khasnya anak-anak seusianya. Tidak mengenakan “topeng”, apalagi harus operasi plastik. Ia merupakan sosok yang periang, selalu optimis dan positif melihat dan menjalani sesuatunya. Tidak menyerah kepada keadaan, kuat, tabah dan ikhlas meski kadang orang menilai Tuhan tidak adil kepadanya.

Tidak! Ia tetap bersyukur apapun yang ada dan menganggap dirinya normal tidak berbeda dengan yang lainnya. Di kala banyak yang merengek-rengek ingin dikasihani dan ngotot ingin diperhatikan, jangan harap ada sifat itu dalam diri Bulan dan mungkin juga teman-teman difabelnya. Bulan dan kawan-kawan tidak minta untuk dikasihani (malah akan marah), tidak galau, baper, bawel, nyinyir, ngomel ataupun protes keras kepada siapapun.

Baginya lebih baik menjalani hidup apa adanya dengan penuh keriang-gembiraan, syukur-syukur bisa membuat orang lain senang (bukannya memancing-mancing kemarahan). Ia selalu tersenyum, karena senyum adalah berkah dan ibadah, juga akan membentuk aura positif dalam dirinya. Perhatikan sebaliknya kaum oposan yang suka marah, demen menghasut, membuat berita bohong, menebar kebencian, akan terlihat roman wajahnya yang buluk dan segala sikap perilakunya yang tidak ada bagusnya sama sekali.

Bulan menjauhi hal seperti itu. Ia ingin produktif dan hidupnya bisa berguna bagi orang banyak. Atas usaha kerasnya, Bulan kemudian memang menjadi anak yang berprestasi. Ia cerdas secara akademik di sekolah, punya banyak teman, membuat bangga orangtuanya, diakui memberi inspirasi banyak orang, menghadirkan suasana positif dan keriangan di sekelilingnya. Kembali saya merasa malu. Apa yang sudah saya lakukan? Apa gunanya hidup saya ini untuk orang banyak? Mengurus diri saya sendiripun tidak mampu.

Baca Juga:

Gus Anas Apresiasi Gema Gambus Jalsah di Bumi Blambangan

Bulan memberi pelajaran telak kepada kita semua bahwa: (1) Rezeki tidak datang begitu saja turun dari langit, melainkan perlu usaha keras yang diawali dengan rasa ikhlas; (2) Menambah teman itu bukan dengan cara memaksa dan harus dihujat terlebih dahulu, melainkan dengan menebar kebaikan kepada siapa saja, dan; (3) Selalu rendah hati, apa yang perlu disombongkan dan dibuktikan? Nothing.

Hal-hal itulah yang membuat siapa saja akan bertekuk lutut kepada Bulan, termasuk Presiden Jokowi. Jokowi akan luluh kepada orang-orang seperti Bulan. Tidak ada cara yang lain untuk meluluhkan hati dan perasaan presiden, ya hanya itu. Anda tidak punya niat baik dan justru ingin menghujat presiden? Bagaimana mau diterima di istana negara, apalagi menyetirnya? Jokowi orang Solo, dibesarkan di sana dengan kondisi sederhana, dan mendapat pendidikan sekolah juga di sana.

Orang Jawa umumnya memiliki hati dan perasaan halus, tidak akan takluk dihadapi dengan cara keras apalagi cenderung kasar. Ia bisa bersedih melihat ketidak-berdayaan seperti pengungsi korban gempa di Lombok dan Sulteng. Tapi ia akan turut tersenyum melihat orang senang dan gembira. Lihat dan perhatikan gambar hasil  screenshut komen salah seorang pemilik akun (Devi Ismu) setelah dirinya menyaksikan aksi Jokowi dan Bulan di atas panggung pembukaan Asian Para Games 2018 di Youtube.

Mungkin komen itu bisa menjadi representasi masyarakat Indonesia akan sosok Presiden Joko Widodo. Pesan khusus buat Bulan itu adalah: “Setelah kamu berhasil membuat Presiden RI bertekuk lutut dihadapanmu…, maka kelak giliran  dunia yang berlutut. Tunjukkan terus kekuatan dan kehebatanmu di tengah kesempatan besar yang diberikan kepadamu. Jangan pernah menyerah!!” Tulisnya. Well, bagaimana Oposan, siap merubah perangai dan sikap?

  • Bagikan