Milano Cortina, Italia – Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milano Cortina menjadi saksi bisu revolusi teknologi dalam cabang olahraga Ski Gaya Bebas. Integrasi kecerdasan buatan (AI) dan sensor pintar tidak hanya mengubah cara atlet bertanding, tetapi juga meningkatkan transparansi penilaian dan pengalaman bagi para penonton global.
AI sebagai Hakim Digital di Lereng Salju
Penilaian dalam Ski Gaya Bebas yang dikenal sangat subjektif dan cepat, kini mendapat dukungan penuh dari teknologi. Sistem AI Judging Support, yang menggunakan teknologi computer vision, mampu mengukur parameter krusial seperti tinggi lompatan, sudut lepas landas, dan jumlah rotasi dengan presisi tinggi dalam hitungan milidetik. Sistem ini bekerja sama dengan teknologi Real-Time 360° Replay yang didukung oleh Alibaba Cloud, mampu menciptakan rekonstruksi visual tiga dimensi dari setiap trik atlet hanya dalam 15-20 detik setelah pendaratan. Hal ini memberikan transparansi lebih bagi juri dalam menilai detail gerakan yang sulit ditangkap mata manusia. Teknologi computer vision ini mampu memisahkan objek atlet dari latar belakang salju dengan akurasi 8K, memungkinkan analisis stroboskopik untuk membedah setiap fase gerakan udara.
Inovasi Peralatan untuk Performa Atlet
Performa atlet di nomor-nomor seperti Moguls dan Slopestyle sangat bergantung pada peralatan. Generasi baru skis, seperti Atomic Bent Decode, dirancang dengan keseimbangan swing weight untuk manuver udara yang lebih mudah. Selain itu, para atlet kini menggunakan Smart Goggles dengan teknologi Augmented Reality (AR) selama latihan. Kacamata ini menampilkan data kecepatan dan posisi GPS secara langsung di layar Heads-Up Display (HUD), memberikan wawasan instan untuk penyesuaian performa.
Beberapa atlet seperti Alex Ferreira, peraih medali emas Halfpipe, memanfaatkan teknologi canggih. Ia menggunakan kacamata AR dengan HUD yang memproyeksikan data kritis seperti orientasi tubuh terhadap garis vertikal bumi saat di udara, meminimalkan risiko over-rotation. Sensor tekanan insole di dalam sepatu botnya juga mengirimkan data distribusi berat badan saat transisi di dinding pipe, membantu menjaga momentum kecepatan.
Atlet lain, Wang Xindi, dalam disiplin Aerials, menggunakan sistem sensor yang dipasang pada tulang belakangnya untuk memberikan sinyal getaran (haptic feedback) sebagai panduan posisi tubuh secara real-time. Sistem ini membantunya melakukan koreksi mikro saat berputar, bahkan pada rotasi 1080 derajat. Setiap lompatannya dianalisis oleh 12 kamera berkecepatan tinggi yang terhubung ke server AI, menghasilkan visualisasi 3D untuk perbandingan dengan lintasan ideal.
Sensor Pintar di Seluruh Arena
Teknologi sensor tidak hanya terbatas pada peralatan atlet. Omega, sebagai penyedia waktu resmi, memperkenalkan sensor gerak computer vision canggih untuk meningkatkan kompetisi big air di snowboarding dan freestyle skiing. Sensor ini melacak kecepatan saat menuruni lintasan, waktu di udara, ketinggian, dan jumlah rotasi. Di cabang figure skating, teknologi serupa digunakan untuk menganalisis gerakan kerangka atlet, mengukur ketinggian lompatan, kecepatan, dan jumlah rotasi, serta menghasilkan peta panas untuk pola pergerakan di atas es.
Proyek penelitian dari ETH Zurich, yang bekerja sama dengan Swiss Junior Ski Team, menggunakan tiga sensor pada pemain ski untuk menilai posisi mereka di udara, dengan fokus pada peningkatan waktu terbang atlet. Informasi kritis dikumpulkan dalam 300 milidetik saat pemain ski mencapai meja lompatan. Sensor ini, yang diposisikan di sepatu bot, kacamata, dan kaki, mengukur gaya lepas landas dan pusat gravitasi saat terbang. Pembelajaran mesin (machine learning) digunakan untuk memberikan umpan balik langsung kepada atlet melalui motor getaran di sepatu bot mereka.
Selain itu, sensor ringan juga dipasang pada ski pelompat ski untuk menyiarkan data kecepatan, akselerasi, dan posisi di udara, yang kemudian dikorelasikan dengan kondisi angin untuk melacak dampaknya. Kamera berkecepatan tinggi juga digunakan untuk melacak setiap pelompat ski, membantu mengungkap posisi tubuh atlet di setiap momen lepas landas. Bahkan, di cabang curling, sensor tertanam di dalam es untuk mendeteksi pelanggaran, dan batu curling dilengkapi sensor panas yang memberikan indikator visual jika pemain memegang gagang terlalu lama.
Kolaborasi Google dan U.S. Ski & Snowboard
Google Cloud berkolaborasi dengan U.S. Ski & Snowboard untuk mengembangkan alat analisis video berbasis AI yang revolusioner. Platform ini memanfaatkan AI dari Google DeepMind untuk memetakan gerakan atlet dalam 3D hanya dari rekaman video, bahkan menembus pakaian ski yang tebal tanpa memerlukan sensor tambahan. Alat ini memungkinkan pelatih untuk berinteraksi dengan data menggunakan bahasa alami, misalnya menanyakan kecepatan putaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan rotasi. Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan presisi latihan dan keselamatan di lereng, memberikan wawasan berbasis data secara real-time kepada atlet dan pelatih.
“Video adalah alat pelatih yang paling umum digunakan dan efektif, tetapi menganalisisnya dulunya merupakan proses manual yang memakan waktu. Dengan bekerja untuk menciptakan alat AI yang berfungsi dengan smartphone, kita sekarang dapat menganalisis rekaman setingkat kompetisi dengan lapisan wawasan tambahan,” ujar Anouk Patty, chief of sport, U.S. Ski & Snowboard.




