Ustaz Khalid Basalamah mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menghujat kebijakan pemerintah. Menurutnya, penting untuk bersikap adil dalam menyampaikan kritik terhadap suatu kebijakan, dengan mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya.

“Saya termasuk pribadi yang kurang setuju ya kalau ada pendapat yang selalu melihat sisi negatifnya negara. Saya pribadi, saya lebih melihat kita harus adil mempertemukan antara mana sisi negatif, mana sisi positif. Karena tidak ada manusia yang sempurna, pasti ada sisi negatifnya. Tapi, kita jangan lupa sisi positifnya,” ujar Khalid Basalamah dalam sebuah siniar atau podcast di kanal YouTube-nya, dikutip Sabtu (7/3).

Khalid Basalamah kemudian mengutip perkataan sahabat sekaligus sepupu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib, yang dikenal dengan julukan Pintu Ilmu atau Bab al-Ilmi, pernah menyampaikan bahwa seorang pemimpin harus dihormati karena tanggung jawabnya yang besar terhadap masyarakat.

“Kalau kita kerucutkan kepada hal-hal yang, kayaknya negara kita sudah rumit seakan-akan sudah tidak ada kebaikan, ini juga keliru. Masih banyak sistem yang bagus,” tegas Khalid Basalamah.

Ia menekankan bahwa masyarakat Indonesia patut bersyukur atas terjaganya demokrasi di Tanah Air. Kebebasan umat Islam untuk membangun masjid dan memperdengarkan suara azan secara bebas merupakan anugerah yang mahal.

“Ini mahal sekali nih bagi umat islam. Kenapa mahal? Di Singapura boleh azan tapi (suaranya) gak boleh keluar dari masjid. Di Australia, gak ada terdengar azan, sehingga kita harus betul-betul memperhatikan waktu,” jelasnya, memberikan perbandingan dengan kondisi di negara lain.

Selain itu, pemerintah juga memberikan izin kepada lembaga-lembaga sosial untuk turut serta mengurus umat, seperti lembaga pengumpul zakat serta penyedia layanan travel haji dan umrah. Khalid Basalamah juga menyoroti bagaimana semua tokoh agama dimuliakan dan diberi kebebasan untuk menyampaikan aspirasi.

“Semua tokoh agama dimuliakan. Semuanya boleh menyampaikan aspirasi. Kita juga dipertimbangkan oleh negara-negara lain,” tambahnya.

Menurut Khalid Basalamah, jika dipersentasekan, kebaikan negara mencapai 90 persen, sementara sisanya 10 persen merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. “Ini harusnya menjadi PR buat kita semua. Dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki, dengan kepedulian, kita mulai dari doa. Saya sangat yakin kalau seluruh masyarakat Indonesia mendoakan kebaikan buat negara, bisa berubah,” harapnya.

Ia menyayangkan masih banyak masyarakat yang justru mendoakan keburukan bagi negara atau meminta pemimpin dilengserkan hanya karena sedikit kesalahan.