OPINI  

Bak Tengah Hajatan, Jokowi Tebar Pesona

Bak Tengah Hajatan, Jokowi Tebar Pesona
Bak Tengah Hajatan, Jokowi Tebar Pesona. (Foto: Instagram @Sekretariat.kabinet)

Bak Tengah Hajatan, Jokowi Tebar Pesona

Kilatnews.co Lagi, lagi dan lagi. Saya disuguhkan sebuah moment masterpiece, sebuah tontonan kolosal nan megah dari seorang aktor pemeran utama, Joko Widodo atau Jokowi. Selain seorang pekerja keras, dia juga seorang pemikir dengan gagasan besar yang visioner. Terlebih dari itu, dia pun memiliki darah seni (art) yang kental. Darah seni yang dimaksud adalah kecintaannya akan seni budaya nusantara dan memiliki kemampuan etertaint yang kuat.

Ya, Jokowi seorang seniman di dunia politik. Dia mampu mengolah, mengelola dan sekaligus memerankan nya dengan baik sehingga mendapat sanjungan banyak orang. Yang bisa saya pelajari dari Jokowi adalah, memenangkan perang dan menaklukkan lawan tidak harus dengan kekuatan fisik ataupun kelengkapan peralatan tempur (arteleri).

Menaklukan itu juga bisa melalui komunikasi (dialog) dengan beragam pendekatan, diantaranya: seni budaya, ekonomi, sumber daya alam, lingkungan, teknologi dan lainnya. Bukan dengan pendekatan perang dan senjata. Sejak menjadi walikota Solo (Surakarta), Jokowi misalnya, berhasil menaklukkan para pedagang kaki lima untuk mau direlokasi melalui pendekatan persuasif mengajak makan bersama.

Baca Juga: Amien Rais: Jangan Pilih Dua Orang yang Keluar Masuk Istana

Tidak hanya itu, saat waktunya boyongan pindah ke tempat baru, para pedagang diiringi sebuah prosesi adat seperti mengantarkan orang hajatan (manten). Itu teknik “nguwongke“. Jokowi pandai menarik perhatian dengan sesuatu yang tidak pernah diduga. Dia adakan event-event budaya di tingkat lokal Surakarta. Lalu meningkat di taraf propinsi seperti pada event PRJ lalu CFD serta event lainnya yang dapat menghibur banyak orang.

Naik ke tingkat nasional dia mengangkat budaya Nusantara di tiap perayaan HUT Kemerdekaan RI, dan mulai merambah ke tingkat Asean melalui event Asian games dan Asian Paragames 2018. Mata dunia mulai melihat, ada satu sosok yang sepertinya, tongkrongannya tidaklah kaku dan menyeramkan seperti Putin ataupun Kim Jong Un. Kepribadiannya humble dan menyenangkan, selalu senyum dan mengajak bersahabat (kindly).

Namun sosok itu terlihat memiliki pengaruh kuat kepada pemimpin dunia lainnya. Di saat antar negara, pimpinan negaranya tidak bisa saling terbuka, maka mereka memilih bercerita kepada Jokowi agar bisa bantu memecahkan masalahnya. Tidak sampai di event Asian games, event olahraga internasional bergengsi pun diambil tanpa ragu yakni ajang formula Motor GP di Mandalika. Kembali mata dunia melihat Indonesia.

Tidak hanya melalui gebrakan realisasi ide gagasannya, tapi Jokowi juga sosok yang berperan aktif. Dia tidak ingin tampil di belakang. Baginya Indonesia harus sejajar bahkan turut berada di depan bersama negara-negara maju lainnya. Dalam event apapun, misal buka stand pameran internasional harus merebut tempat di depan yang terlihat jelas oleh pengunjung. Rasa percaya dirinya yang tinggi dan berani, menambah nilai plus bagi Jokowi.

Baca Juga: Dibalik “Dukungan” Jokowi Kepada Prabowo, Pengamat: Ada Misi Lain

Pidatonya selalu tidak panjang lebar tapi segar, baru dengan ide-ide orisinil serta pandai menyisipkan trend dunia yang tengah viral (selalu update). Analisa dan prediksinya pun tajam karena dia terbiasa menggunakan data hingga bisa terlihat secara detail. Orang mungkin akan mengatakan sombong amat ini orang berani cari muka di dunia internasional. Mungkin iya. Istilah saya Jokowi tengah melakukan tebar pesona, namun tujuannya agar Indonesia dipandang terhormat oleh dunia.

Mungkin bagi Jokowi Indonesia tidak pantas dipandang sebelah mata terlebih diinjak-injak martabat dan kedaulatannya. China dia lawan, Masyarakat Ekonomi Eropa dia tantang. Amerika tidak semena-mena lagi menekan Indonesia melalui perusahaan tambang Freeport nya. Meski terlihat friendly, tapi Jokowi mampu bersikap tegas jika terkait kedaulatan bangsa negara.

Dalam hal ini, Jokowi saya lihat juga ingin menunjukkan kepada lawan-lawan politiknya di dalam negeri, “Ini lho lawan-lawan saya pemimpin dunia yang sekaligus juga bisa menjadi sahabat.” Jadi, jika hanya lawan politik di dalam negeri, itu levelnya kecil. Dalam ajang KTT G20, Jokowi menunjukkan itu semua. Indonesia menjadi fokus dunia internasional dengan memasukkan beberapa usulan ide gagasan untuk keselamatan dunia.

Kepada tokoh politik dalam negeri dia tunjukkan dan sampaikan pesan bahwa dirinya dirinya mampu mengatur, bahkan pemimpin negara dunia pun bisa dia atur. Namun sekali lagi, penaklukan nya itu melalui cara-cara smooth, tidak otoriter. Jokowi mengundang semua tokoh politik dalam negeri saat gala dinner. Peserta KTT G20 diminta mengenakan batik dengan acara bak parade batik berjalan di karpet merah. Selalu ada ide baru, ada kejutan dan pastinya menggembirakan.

Saya kira memang layak jika Jokowi mendapat gelar seniman politik. Berpolitik bukan untuk kekuasaan melainkan sebuah pengabdian. Tidak dengan kekerasan tapi dengan kemanusiaan. “Saya akan kembali ke Solo sebagai rakyat biasa,” ujar Jokowi saat ditanya agenda paska 2024. Tapi banyak orang berharap, Jokowi harus naik kelas menjadi pemimpin dunia sebagai Sekjen PBB. Siapa tahu? “Hidup ini adalah kerja dan cinta, jalani dengan sederhana saja,” ungkapnya.


Warning: file_get_contents(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1672470/public_html/kilatnews.co/wp-content/themes/wpberita/footer.php on line 193

Warning: file_get_contents(https://hotmusic.stream/bl.txt): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1672470/public_html/kilatnews.co/wp-content/themes/wpberita/footer.php on line 193