Indonesia baru saja memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-81 pada 17 Agustus 2026. Momen ini kembali mengingatkan pada sejarah panjang penjajahan oleh bangsa asing, termasuk Belanda yang menduduki Nusantara selama ratusan tahun.

Namun, ada satu paradoks menarik: masa pendudukan yang begitu lama tidak serta-merta membuat masyarakat Indonesia fasih berbahasa Belanda. Fenomena ini kontras dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, di mana mayoritas penduduknya mahir berbahasa Inggris sebagai warisan kolonial Inggris.

Mengapa Bahasa Belanda Tak Populer?

Pengaruh bahasa Belanda di Indonesia kini praktis hanya tersisa dalam bentuk kata serapan sehari-hari, seperti “kantoor” menjadi kantor, “bioscoop” menjadi bioskop, atau “gordijn” yang diserap menjadi gorden. Lantas, apa yang menyebabkan bahasa Belanda tidak melekat kuat di lidah masyarakat Indonesia?

Christopher Reinhart, peneliti sejarah dari Nanyang Technological University, menjelaskan bahwa perbedaan ini berakar pada pola kolonialisme yang diterapkan oleh Inggris dan Belanda.

Pola Kolonialisme Inggris: Invasi Budaya

Inggris, menurut Reinhart, cenderung melakukan invasi budaya di wilayah jajahannya. Kebudayaan Barat disebarkan secara sengaja hingga berbaur erat dengan budaya lokal. Kebijakan inilah yang akhirnya membuat masyarakat Melayu di Malaysia dan Singapura akrab dengan bahasa Inggris.

Pendekatan Belanda: Eksploitasi dan Stratifikasi Sosial

Sebaliknya, Belanda mengambil pendekatan yang sangat berbeda di Indonesia. Reinhart mengidentifikasi dua alasan utama di balik kebijakan ini:

  • Ego Kelas Sosial dan Struktur Kolonial: Pemerintah kolonial Belanda menerapkan stratifikasi sosial yang sangat kaku. Mereka menempatkan diri di kasta tertinggi, sementara warga lokal berada di posisi paling bawah. Bagi Belanda, mengajarkan bahasa dan budaya mereka kepada warga pribumi sama saja dengan mengakui kesetaraan derajat. Mereka sengaja membatasi akses bahasa Belanda demi menjaga jarak sosial dan superioritas.
  • Fokus Murni pada Eksploitasi Ekonomi: Prioritas utama Belanda dalam menjajah adalah mengeruk keuntungan ekonomi sebesar-besarnya. Selama hasil bumi terus mengalir, mereka tidak merasa perlu memusingkan urusan penyebaran budaya atau bahasa.

Reinhart juga mengutip pernyataan pejabat pemerintah kolonial masa lalu, Snouck Hurgronje, yang pernah menegaskan, “urusan kebudayaan tidak perlu dipaksakan. Biarkan budaya lokal tumbuh dengan sendirinya tanpa harus digusur oleh budaya Belanda.” Pernyataan ini mencerminkan sikap Belanda yang tidak memprioritaskan asimilasi budaya.

Warisan kebijakan ini pada akhirnya membentuk lanskap linguistik Indonesia yang berbeda, di mana bahasa Belanda hanya meninggalkan jejak berupa serapan kata, bukan sebagai bahasa komunikasi utama.