Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari normal, meskipun kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran telah tercapai. Sekitar 80 ranjau laut dilaporkan masih menghalangi rute utama di tengah selat, menjadikan salah satu jalur energi paling vital di dunia itu tetap berstatus berbahaya.
Organisasi perdagangan pemilik kapal tanker, Intertank, menyatakan bahwa bagian tengah Selat Hormuz akan tetap ditutup “untuk beberapa waktu.” Kondisi ini memaksa kapal-kapal melintas melalui rute alternatif yang sempit dan berisiko tinggi di dekat pantai Oman, meningkatkan potensi kandas dan tabrakan.
Phil Belcher, Direktur Maritim Intertank, menegaskan bahaya tersebut. “Rute utama melalui bagian tengah Selat Hormuz itu ditutup, itu berbahaya,” kata Belcher, dikutip dari The Guardian. Ia menambahkan, “Data terbaru yang kami miliki menunjukkan ada 80 ranjau di Selat Hormuz. Jumlah itu sangat besar dan akan memakan waktu untuk membersihkannya.”
Sejumlah kapal memang telah mulai keluar dari Teluk melalui jalur sempit di Selat Hormuz pada Kamis (18/6/2026), menyusul penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, pelayaran diperkirakan belum akan kembali normal dalam waktu dekat, bahkan jika gencatan senjata bertahan, akibat keberadaan ranjau serta hambatan lain yang masih mengganggu perdagangan global.
Selama konflik, ranjau-ranjau tersebut ditempatkan di area tengah skema pemisahan lalu lintas kapal yang telah berlaku sejak 1968 antara Iran dan Oman. Akibatnya, kepadatan kapal meningkat di jalur alternatif sehingga risiko keselamatan pelayaran turut naik, termasuk potensi kandas dan tabrakan.
Gangguan juga diperparah oleh signal jamming yang mengganggu sistem navigasi kapal, membuat posisi kapal lebih sulit dipantau secara akurat. Sekitar 20.000 pelaut dilaporkan sempat terjebak di kedua sisi selat, sementara sekitar 600 kapal masih menunggu untuk keluar dari kawasan Teluk sejak eskalasi konflik meningkat.
Selat Hormuz, yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, memisahkan Iran di utara dan Semenanjung Arab di selatan. Dengan lebar sekitar 34 km pada titik tersempit dan panjang sekitar 155 km, selat ini secara normal dilalui sekitar 130 kapal per hari dan menjadi jalur utama sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadikannya salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global.
Menanggapi situasi ini, Pemimpin Redaksi penyedia data maritim Lloyd’s List, Richard Meade, menyatakan, “Kita berada di wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saya tidak berpikir pelayaran di selat ini akan kembali normal tahun ini.”




