Empat negara anggota ASEAN, yakni Malaysia, Thailand, Singapura, dan Vietnam, secara kompak mengumumkan percepatan pembangunan rute kereta cepat terintegrasi di kawasan Asia Tenggara. Proyek ambisius ini ditargetkan rampung pada tahun 2026, menandai langkah signifikan dalam konektivitas regional tanpa partisipasi Indonesia.
Langkah ini bukan sekadar proyek transportasi biasa, melainkan cerminan nyata bagaimana keempat negara tersebut bergerak cepat merespons kebutuhan konektivitas yang mendesak di tengah persaingan geopolitik. Mereka tidak hanya mengandalkan skema bilateral, tetapi juga mencari sinergi lintas negara untuk menciptakan jaringan transportasi modern yang efisien.
Malaysia, Thailand, Singapura, dan Vietnam Kompak Wujudkan Jaringan Kereta Cepat
Berdasarkan laporan CNN Indonesia, Malaysia secara resmi menggandeng Thailand, Singapura, dan Vietnam untuk memperkenalkan jaringan kereta cepat (HSR) terintegrasi pada tahun 2026. Komitmen nyata ini ditunjukkan melalui berbagai proyek strategis yang sedang berjalan.
Salah satu proyek vital adalah Rapid Transit System (RTS) Link yang akan menghubungkan Johor Bahru di Malaysia dengan Woodlands North di Singapura. Proyek sepanjang 4 kilometer ini ditargetkan selesai pada Desember 2026, dengan perkiraan waktu tempuh hanya lima menit. Proyek yang melibatkan partisipasi perusahaan asal China ini diharapkan mampu memangkas kemacetan di Causeway yang selama ini menjadi masalah utama bagi para komuter harian.
Selain RTS Link, Malaysia dan Thailand juga terus mendorong rencana pengembangan jalur kereta cepat Kuala Lumpur-Bangkok. Jalur ini nantinya akan terintegrasi dengan jaringan kereta cepat China-Laos-Thailand, yang menghubungkan Vientiane di Laos dengan Bangkok, memperluas jangkauan konektivitas hingga ke daratan Asia.
Vietnam Rayu Beijing, Percepat Jalur Kereta Api Standar
Vietnam, yang selama ini dikenal dengan kebijakan “diplomasi bambu” untuk menjaga keseimbangan kekuatan besar, kini menunjukkan pergeseran strategi yang signifikan. Di bawah kepemimpinan Presiden Vietnam To Lam, negara tersebut semakin merapat ke Beijing.
Pergeseran ini terbukti nyata dalam pertemuan puncak antara Vietnam dan China pada April 2026. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara secara resmi menyepakati kerja sama perkeretaapian sebagai prioritas utama dan fokus strategis baru.
Dalam pernyataan bersama, disebutkan bahwa China dan Vietnam akan bersama-sama mempercepat tiga proyek jalur kereta api lintas batas berstandar. Meskipun detail spesifik proyek tersebut tidak dirinci dalam laporan, kesepakatan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk meningkatkan infrastruktur perkeretaapian yang vital bagi perdagangan dan mobilitas regional.



