Tim Nasional Indonesia U-17 harus menelan pil pahit setelah gagal melaju dari babak grup Piala Asia U-17 2026. Hasil ini menjadi kemunduran signifikan mengingat pada dua edisi sebelumnya, yakni 2023 dan 2025, skuad Garuda Muda mampu menembus babak perempat final. Kegagalan ini menyisakan banyak pertanyaan mengenai performa tim dan strategi yang diterapkan.

Perjalanan Timnas U-17 di Fase Grup

Dalam persaingan ketat Grup B, Timnas Indonesia U-17 hanya mampu meraih satu kemenangan dan menelan dua kekalahan. Berikut adalah rincian hasil pertandingan yang mereka lakoni:

  • Indonesia 1-0 China U-17 (kemenangan)
  • Indonesia 0-2 Qatar U-17 (kekalahan)
  • Indonesia 1-3 Jepang U-17 (kekalahan)

Dengan raihan tiga poin dari tiga pertandingan, Indonesia harus puas finis di peringkat keempat klasemen akhir Grup B. China U-17, yang juga mengoleksi tiga poin, berhak lolos ke babak selanjutnya berkat keunggulan selisih gol.

Lini Pertahanan Rapuh Jadi Sorotan Utama

Salah satu penyebab utama kegagalan Timnas Indonesia U-17 adalah buruknya performa lini pertahanan. Sepanjang tiga pertandingan babak grup, gawang Indonesia kebobolan total lima gol, dengan rincian dua gol dari Qatar dan tiga gol dari Jepang. Rata-rata kebobolan hampir dua gol per pertandingan merupakan angka yang terlalu tinggi untuk tim yang berambisi lolos dari fase grup di level Asia.

Seorang pengamat sepak bola nasional menyoroti kelemahan ini. Menurutnya, “lini belakang Indonesia terlalu mudah ditembus, terutama saat menghadapi serangan balik cepat. Koordinasi antar bek juga masih kurang, seringkali ada pemain lawan yang lolos jebakan offside.”

Ketumpulan Lini Depan Memperparah Keadaan

Selain masalah di lini belakang, ketumpulan lini depan juga menjadi faktor krusial. Timnas Indonesia U-17 hanya mampu mencetak dua gol sepanjang turnamen, yaitu satu gol ke gawang China U-17 dan satu gol ke gawang Jepang U-17. Dengan rata-rata hanya 0,7 gol per pertandingan, daya gedor Garuda Muda terbukti sangat minim untuk bersaing di kancah Asia.

Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto sebenarnya telah menurunkan kombinasi pemain terbaik di lini depan, termasuk Dava Yunna yang menjadi andalan. Namun, masalah penyelesaian akhir tetap menjadi kendala. “penyelesaian akhir masih menjadi masalah besar. Banyak peluang terbuang sia-sia karena tembakan yang tidak mengarah ke gawang atau keputusan salah saat berada di kotak penalti,” ujar Kurniawan Dwi Yulianto, mengindikasikan frustrasi terhadap efektivitas serangan timnya.