PIDIE JAYA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Stella Christie, memberikan apresiasi tinggi terhadap program pengabdian masyarakat yang dijalankan Universitas Syiah Kuala (USK) di Kabupaten Pidie Jaya. Apresiasi ini disampaikan Stella saat meninjau langsung program Mahasiswa Berdampak pada Jumat, 8 Mei 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Stella Christie didampingi Rektor USK Mirza Tabrani, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Agussabti, serta Ketua LPPM Prof. Mudatsir. Rombongan disambut hangat oleh Wakil Bupati Pidie Jaya Hasan Basri bersama jajaran pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Inovasi dan Pendampingan untuk Korban Bencana
Stella meninjau program pendampingan psikososial dan pemulihan ekonomi bagi warga terdampak banjir bandang. Di Gampong Dayah Usen, ia melihat langsung pembinaan usaha kelompok produksi kerupuk tempe “Krab Krub”. Stella bahkan berjanji akan membantu mempromosikan produk tersebut melalui media sosial pribadinya.
Selain itu, rombongan juga meninjau inovasi teknologi pemurnian air berbasis panel surya. Sistem ini merupakan hasil riset dosen USK, Zulhelmi, yang mampu memproduksi hingga 2.000 liter air layak minum per hari. Teknologi ini telah dimanfaatkan masyarakat sekitar Masjid Tuha sejak Februari lalu.
Pentingnya Dampak Nyata Perguruan Tinggi
Dalam keterangannya, Stella Christie menegaskan bahwa pengabdian perguruan tinggi harus memberikan dampak langsung kepada masyarakat. “Ilmu pengetahuan akan menemukan makna tertingginya ketika hadir untuk mengurangi penderitaan manusia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi yang mendidik antara orang tua dan anak sebagai fondasi lahirnya generasi yang kritis dan tangguh. Program pengabdian USK ini melibatkan 1.050 mahasiswa yang tinggal bersama masyarakat di 21 lokasi terdampak bencana, mencakup Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Bener Meriah, Takengon, hingga Aceh Tamiang.
Kolaborasi Kunci Keberlanjutan Program
Rektor USK Mirza Tabrani menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat demi keberlanjutan program pengabdian. “Kampus tidak boleh berjalan sendiri. Kolaborasi adalah kunci agar pengabdian hidup dan berkembang,” kata Mirza.
Senada, Wakil Ketua LPPM Bidang Pengabdian Dr. Sulastri menambahkan bahwa keberlanjutan program memerlukan dukungan kebijakan dari pemerintah gampong dan dinas terkait. “Pengabdian tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia harus menumbuhkan harapan dan membangun kemandirian masyarakat,” tegas Sulastri.
Kunjungan Wakil Menteri ini menjadi bukti nyata keterlibatan USK dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana melalui pemberdayaan, pendampingan sosial, dan inovasi teknologi yang berkelanjutan.




