Militer Amerika Serikat (AS) melaporkan sekitar 200 tentaranya terluka dalam perang melawan Iran yang kini telah memasuki pekan ketiga. Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, sebanyak 13 tentara AS juga dilaporkan tewas.
Komando Pusat Militer AS (Central Command) pada Senin (16/3/2026), seperti dilansir Reuters, menyebutkan bahwa sebagian besar korban mengalami luka ringan. Dari jumlah tersebut, sekitar 180 personel telah kembali bertugas, sementara sepuluh lainnya dilaporkan mengalami luka serius.
Para tentara AS yang terluka tersebar di sejumlah negara di kawasan, termasuk Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Irak, dan Israel. Sejak awal konflik, Iran telah melancarkan serangan ke pangkalan militer AS, misi diplomatik, hotel, dan bandara. Serangan tersebut juga merusak infrastruktur energi di beberapa negara Teluk Arab.
Pekan lalu, Reuters sempat melaporkan bahwa hingga 140 tentara AS telah terluka, menyoroti besarnya ancaman dari serangan Iran. Di sisi lain, Amerika Serikat telah melancarkan serangan balasan terhadap lebih dari 7.000 target di Iran.
Seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim pada Senin (16/3/2026) menambahkan, sekitar selusin drone MQ-9 hancur dalam perang tersebut. Pesawat nirawak General Atomics MQ-9 Reaper, yang mulai digunakan Angkatan Udara AS sekitar 16 tahun lalu, dikenal mampu terbang di ketinggian sekitar 50.000 kaki selama lebih dari 27 jam. Drone ini dilengkapi dengan kamera, sensor, dan radar canggih untuk mengumpulkan intelijen, serta dapat dipersenjatai dengan berbagai rudal udara-ke-darat.




