Sebuah tanker milik perusahaan Amerika Serikat, Safesea Vishnu, diserang dua perahu tak berawak bermuatan bahan peledak di pelabuhan Khor Al Zubair, Irak, pada Rabu (11/3/2026). Insiden ini memicu ledakan besar yang menewaskan satu awak kapal dan melukai situasi keamanan pelayaran di kawasan Teluk.

Pemilik sekaligus operator kapal yang berbasis di New Jersey, Safesea Group, menyampaikan penilaian awal bahwa kedua perahu tak berawak itu menabrak sisi kiri kapal tanker Safesea Vishnu. Ledakan yang terjadi membakar kapal dan hanya menyisakan hitungan detik bagi awak untuk menyelamatkan diri.

“Setelah berbicara dengan awak kapal yang selamat, serangan ini tampaknya dilakukan secara sengaja dan terencana,” kata Safesea Group dalam pernyataan resminya, seperti dilansir Reuters, Sabtu (14/3/2026).

Serangan ini menambah daftar panjang insiden di Teluk. Sedikitnya 16 tanker dan kapal lain telah menjadi sasaran serangan di kawasan tersebut sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran. Ratusan kapal lainnya memilih berlabuh menyusul ancaman Teheran untuk menyerang kapal yang melintas di atau dekat Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.

Saat serangan terjadi, tanker Safesea Vishnu yang berbendera Kepulauan Marshall sedang berlabuh di pelabuhan Irak Khor Al Zubair. Kapal tersebut tengah melakukan proses pemindahan muatan antar kapal (ship-to-ship) sebanyak 53.000 metrik ton nafta.

Sebanyak 28 awak kapal tidak sempat menurunkan sekoci penyelamat dan terpaksa melompat ke laut untuk menghindari kobaran api. Satu orang dilaporkan tewas, sementara 27 awak lainnya selamat dan kini mendapat bantuan dari Kedutaan Besar India di Irak, menurut Safesea. Kapal tanker tersebut dilaporkan miring di perairan.

Tim penyelamat telah dikerahkan untuk menstabilkan kapal sekaligus memastikan tidak terjadi pencemaran di lingkungan laut sekitar. Safesea menegaskan serangan ini harus menjadi peringatan bagi pemerintah, otoritas maritim, dan komunitas internasional.

“Jalur pelayaran komersial tidak boleh berubah menjadi zona pertempuran,” kata perusahaan itu.

Kapal lain yang terlibat dalam proses transfer muatan adalah Zefyros, tanker berbendera Malta. Manajer kapal yang berbasis di Yunani mengatakan sebuah proyektil menghantam kapal tersebut dalam serangan pada Rabu malam. Seluruh 23 awak kapal Zefyros berhasil dievakuasi dengan selamat.

Menurut World Shipping Council, sekitar 20.000 pelaut yang bekerja di kapal-kapal yang beroperasi di kawasan itu kini menghadapi situasi keamanan yang “berbahaya dan sangat tidak pasti”.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan Washington siap mengawal tanker yang melintas di Selat Hormuz bila diperlukan. Namun hingga kini Angkatan Laut AS disebut menolak permintaan hampir setiap hari dari industri pelayaran untuk memberikan pengawalan militer sejak perang dengan Iran dimulai, karena risiko serangan dinilai masih terlalu tinggi.