Sebuah pesawat tanker militer Amerika Serikat (AS) jenis KC-135 jatuh di wilayah barat Irak pada Kamis waktu setempat. Insiden ini terjadi di tengah peningkatan operasi udara Washington terhadap Iran di kawasan Timur Tengah.
Komando Pusat militer Amerika Serikat (United States Central Command/USCENTCOM) menyatakan kecelakaan tersebut melibatkan dua pesawat. USCENTCOM menegaskan insiden itu bukan akibat serangan musuh maupun kesalahan tembakan dari pihak sendiri.
“Insiden terjadi di wilayah udara yang bersahabat selama Operasi Epic Fury, dan upaya penyelamatan masih berlangsung,” kata USCENTCOM dalam pernyataan resmi, seperti dilansir Reuters, Jumat, 13 Maret 2026.
Pesawat kedua yang terlibat dalam insiden tersebut dilaporkan berhasil mendarat dengan selamat. Seorang pejabat Amerika yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan pesawat yang jatuh merupakan tanker KC-135 dengan hingga enam personel militer di dalamnya. Militer AS kini mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan untuk menemukan serta mengevakuasi awak pesawat.
KC-135 sendiri merupakan pesawat pengisi bahan bakar di udara yang telah menjadi tulang punggung armada pengisian bahan bakar Angkatan Udara Amerika sejak era 1950-an. Pesawat ini memungkinkan jet tempur menjalankan misi jarak jauh tanpa harus mendarat untuk mengisi bahan bakar.
Milisi Pro-Iran Klaim Bertanggung Jawab
Namun, sebuah kelompok milisi pro-Iran di Irak yang tergabung dalam jaringan “Perlawanan Islam di Irak” mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat tersebut. Dalam pernyataannya, kelompok itu mengatakan pesawat tanker Amerika ditembak jatuh “untuk membela kedaulatan dan wilayah udara negara kami.”
Wilayah gurun barat Irak tempat pesawat itu jatuh merupakan kawasan luas yang jarang penduduk. Area ini dikenal sebagai basis sejumlah milisi Syiah yang bersekutu dengan Iran, serta kerap menjadi lokasi serangan udara Amerika Serikat maupun Israel.
Insiden jatuhnya pesawat KC-135 ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Sejauh ini, sedikitnya tujuh tentara Amerika dilaporkan tewas dan sekitar 150 lainnya terluka dalam konflik tersebut. Serangan Amerika dan Israel disebut telah menghantam lebih dari 6.000 target di Iran.
Ketegangan juga meningkat di berbagai wilayah Timur Tengah. Iran dilaporkan menembakkan rudal ke Israel, sementara militer Israel terus menggempur target di Beirut dan mengancam memperluas operasi di Lebanon terhadap kelompok Hezbollah. Perang yang meluas di kawasan itu telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, termasuk ratusan korban di Lebanon, serta memicu serangkaian serangan balasan terhadap pangkalan dan kepentingan negara-negara Barat di Timur Tengah.




