Serangan siber berskala besar telah melumpuhkan jaringan global Stryker Corporation, perusahaan teknologi medis raksasa asal Amerika Serikat. Kelompok peretas yang mengaku berafiliasi dengan Iran menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut, menyebutnya sebagai “awal babak baru perang siber.”
Insiden ini terjadi pada Rabu dini hari waktu Amerika Serikat, menyebabkan gangguan langsung pada seluruh sistem digital perusahaan. Perangkat berbasis Windows, mulai dari dari laptop hingga ponsel yang terhubung dengan jaringan internal Stryker, dilaporkan tidak dapat diakses.
Kelompok peretas bernama Handala Hack Team mengklaim sebagai dalang di balik operasi ini. Mereka menyatakan telah berhasil mengekstrak sekitar 50 terabyte data penting sebelum merusak puluhan ribu sistem dan server perusahaan. Dalam pernyataan resminya, Handala menyebut lebih dari 200 ribu perangkat, server, dan ponsel telah dihapus datanya dalam serangan yang mereka gambarkan sebagai “pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Akibat serangan tersebut, kantor-kantor Stryker di puluhan negara terpaksa menghentikan operasional sementara. Sejumlah karyawan di Amerika Serikat, Irlandia, dan Australia melaporkan perangkat kerja mereka tiba-tiba di-reset dari jarak jauh pada tengah malam. Bahkan, ponsel pribadi yang terdaftar dalam sistem kerja perusahaan ikut kehilangan data setelah perangkat tersebut dihapus secara otomatis. Beberapa fasilitas perusahaan dilaporkan kembali menggunakan metode manual, seperti kertas dan pena, karena sistem digital tidak dapat diakses. Logo Handala juga sempat muncul di halaman login internal perusahaan.
Stryker, yang dikenal memproduksi berbagai peralatan medis seperti sendi buatan, instrumen bedah, hingga sistem operasi robotik, telah mengonfirmasi terjadinya gangguan jaringan global. Perusahaan yang berbasis di Michigan ini menyatakan serangan tersebut memengaruhi lingkungan Microsoft yang menjadi tulang punggung sistem teknologi informasinya.
Pihak perusahaan telah mengaktifkan protokol tanggap darurat siber dan bekerja sama dengan pakar keamanan eksternal untuk menyelidiki insiden tersebut. Dalam laporan resmi kepada regulator, Stryker menyebut belum menemukan indikasi ransomware atau malware, serta menilai serangan telah berhasil dikendalikan. Namun, hingga kini perusahaan belum dapat memastikan kapan seluruh sistem akan kembali normal.
Handala menyatakan serangan itu merupakan balasan atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel di Iran yang menewaskan lebih dari 170 orang, termasuk banyak pelajar perempuan di sebuah sekolah di kota Minab. Ketegangan geopolitik tersebut juga memicu ancaman baru dari Iran terhadap target ekonomi Barat.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran telah memperingatkan bahwa bank dan pusat ekonomi yang terkait dengan Amerika Serikat maupun Israel kini dapat menjadi target. Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran bahkan menyebut sejumlah perusahaan teknologi Amerika, termasuk Google, Microsoft, dan Nvidia, sebagai sasaran potensial berikutnya.
Serangan terhadap Stryker menandai eskalasi baru konflik digital di tengah memanasnya perang Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel. Para analis keamanan menilai insiden ini menunjukkan bahwa perang modern kini tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di jaringan komputer global.




