Rudal yang diduga diluncurkan oleh pasukan Israel dan Amerika Serikat menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, pada Sabtu pagi. Insiden tragis ini terjadi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, menyebabkan puluhan siswi dilaporkan tewas dan banyak lainnya luka-luka, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan terhadap warga sipil.
Serangan terjadi antara pukul 10.00 hingga 10.45 waktu setempat, ketika kelas-kelas di sekolah khusus putri tersebut masih aktif. Gelombang awal serangan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan dimulai sekitar pukul 09.40, namun belum jelas apakah peringatan penutupan sekolah sempat diterima di Minab sebelum rudal menghantam.
Puing dan Duka di Sekolah Shajareh Tayyebeh
Pemandangan di lokasi kejadian menunjukkan kehancuran parah. Mural pastel bergambar pepohonan, kuas lukis, krayon, dan mikroskop yang sebelumnya menghiasi dinding kini diselimuti asap hitam dan debu. Kaca-kaca jendela hancur, tirai tercabik, dan seluncuran plastik merah terbalik di halaman sekolah, seperti dilaporkan media Inggris The Guardian.
Di antara puing-puing, kursi-kursi kecil berserakan dan sepasang sandal plastik merah muda masih tertata rapi di atas rak buku yang terguling, tertimbun debu beton dan serpihan bangunan. Sekolah yang setiap pagi dipenuhi suara riang anak-anak itu mendadak berubah menjadi reruntuhan.
Seorang pria yang berada di lokasi kejadian, dengan emosi, mengangkat buku pelajaran yang ternoda darah. “Ini buku-buku anak-anak yang berada di bawah reruntuhan ini,” teriaknya. “Mereka warga sipil. Ini sekolah. Mereka datang untuk belajar.”
Sekolah Shajareh Tayyebeh Girls’ Elementary School terletak bersebelahan dengan kompleks barak dan fasilitas pendukung Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Namun, gedung kelas dan halaman bermain dipisahkan oleh tembok dari area militer tersebut. Citra satelit bahkan menunjukkan mural warna-warni di dinding sekolah, tanpa indikasi penggunaan untuk kepentingan militer.
Jumlah Korban dan Respons Internasional
Media pemerintah Iran melaporkan hingga 168 orang tewas dan 95 lainnya luka-luka dalam serangan tersebut, meskipun angka ini belum dapat diverifikasi secara independen. Organisasi hak asasi manusia Hengaw menyebut sesi pagi biasanya diikuti sekitar 170 murid. Seorang pejabat lokal mengonfirmasi bahwa korban mencakup siswa, orang tua, dan staf sekolah, dengan kepala sekolah dilaporkan termasuk di antara korban meninggal, menurut kantor berita mahasiswa Iran, ISNA.
Otoritas Iran mengeluarkan perintah penutupan sekolah tak lama setelah serangan dimulai. Namun, Perwakilan Dewan Koordinasi Serikat Guru Iran menyatakan bahwa jarak waktu antara pengumuman penutupan dan ledakan sangat singkat, sehingga banyak orang tua belum sempat menjemput anak-anak mereka.
Militer Amerika Serikat menyatakan sedang “menyelidiki” laporan korban sipil. Juru bicara Komando Pusat AS menegaskan pihaknya menanggapi serius setiap laporan kerugian warga sipil. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan bahwa jika serangan itu berasal dari pihaknya, maka akan diselidiki, dan menegaskan AS tidak akan dengan sengaja menargetkan sekolah.
Di tengah insiden ini, misinformasi beredar di media sosial, termasuk klaim rekaman berasal dari negara lain atau ledakan disebabkan rudal salah sasaran. Klaim-klaim tersebut telah dibantah oleh verifikasi lokasi dan citra satelit.
Dampak Kemanusiaan yang Meluas
Perang yang dipimpin AS terhadap Iran disebut telah menewaskan ratusan warga sipil di berbagai wilayah. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 555 korban jiwa secara nasional hingga hari ketiga konflik. Kantor berita Human Rights Activist yang berbasis di AS menyebut angka korban sipil mencapai 742 orang, termasuk 176 anak-anak.
Di Minab, sebuah kota kecil yang bergantung pada pertanian kurma dan jeruk, angka-angka ini memiliki makna yang lebih dalam. Beberapa keluarga dilaporkan kehilangan lebih dari satu anak dalam satu pagi yang sama. Kamar jenazah rumah sakit setempat disebut kewalahan, bahkan hingga harus menggunakan kendaraan berpendingin untuk menyimpan korban.
Kini, yang tersisa dari Sekolah Shajareh Tayyebeh adalah dinding retak, mural yang terkelupas, dan buku-buku pelajaran yang tak lagi akan dibuka. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar telah berubah menjadi lokasi duka. Tragedi ini kembali mempertanyakan sifat perang yang sedang berlangsung dan siapa sesungguhnya yang paling menanggung harganya.




