Bendera merah simbol pembalasan dikibarkan di atas kubah Jamkaran Mosque, Qom, pada Minggu (1/3/2026) pagi, menyusul konfirmasi pemerintah Iran atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei. Kematian Khamenei dipastikan akibat serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat, yang segera memicu janji pembalasan dari Teheran dan membawa konflik di Timur Tengah ke fase paling genting.
Pengibaran kain merah yang berkibar tertiup angin di kota suci Qom ini bukan sekadar ritual simbolik. Dalam tradisi Syiah, bendera merah melambangkan darah yang belum terbalas dan merupakan panggilan untuk menuntut keadilan atas kematian seorang pemimpin besar. Di halaman masjid, petugas berseragam terlihat berdiri dekat tiang bendera sambil memegang potret Ali Khamenei, sebuah adegan yang terekam jelas dalam video yang beredar di media sosial.
Reaksi Cepat Iran dan Janji Pembalasan
Begitu kabar kematian Khamenei menyebar dari Tehran ke seluruh penjuru negeri, sirene ambulans terdengar di mana-mana, televisi nasional menayangkan ayat-ayat Al-Qur’an, dan ribuan warga turun ke jalan untuk berkabung. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan libur nasional selama tujuh hari. Kematian Khamenei, yang telah menjadi pusat kekuasaan Republik Islam selama lebih dari tiga dekade, merupakan kehilangan besar bagi negara tersebut.
Namun, di balik duka, Iran bergerak cepat. Dalam hitungan jam, mekanisme darurat konstitusional diaktifkan. Sebuah dewan kepemimpinan sementara segera dibentuk untuk menjalankan fungsi pemimpin tertinggi hingga Majelis Ahli menunjuk pengganti permanen. Dewan ini terdiri dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian, kepala lembaga peradilan, dan seorang ulama senior dari Dewan Penjaga.
Presiden Pezeshkian menegaskan secara terbuka bahwa pembalasan atas kematian Khamenei dan pejabat senior lainnya adalah kewajiban dan hak yang sah. “Republik Islam Iran menganggap mencari keadilan dan membalas dendam kepada para pelaku dan mereka yang memerintahkan kejahatan bersejarah ini sebagai kewajiban dan hak yang sah, dan akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memenuhi tanggung jawab dan kewajiban besar ini,” kata Pezeshkian, dikutip media pemerintah.
Eskalasi Konflik dan Dampak Regional
Tak lama setelah pernyataan tersebut, gelombang serangan balasan dilaporkan terjadi. Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke berbagai target yang dianggap terkait dengan Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah. Serangan ini menandai eskalasi konflik yang jauh lebih terbuka, bergerak dari perang bayangan ke konfrontasi langsung.
Di Israel, sirene peringatan udara berbunyi, sekolah ditutup, dan sistem pertahanan udara diaktifkan untuk mencegat rudal. Pemerintah Israel memberlakukan status darurat nasional dan memanggil kembali ratusan ribu tentara cadangan. Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat menegaskan operasi militer terhadap Iran belum selesai, dengan serangan udara lanjutan menargetkan fasilitas militer, termasuk lokasi yang diduga terkait Garda Revolusi.
Dampak konflik ini juga meluas ke seluruh kawasan. Salah satu langkah geopolitik paling signifikan adalah penutupan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Iran. Penutupan ini membuat jalur laut penting yang dilewati 20–30% perdagangan minyak dunia menjadi tidak aman. Kapal-kapal yang biasanya melintasi jalur ini menerima peringatan resmi agar tidak melewati perairan tersebut, sementara operator kapal menunda pengiriman karena risiko tinggi. Negara-negara Teluk pun meningkatkan kewaspadaan, dan pasar energi global mulai bereaksi terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak.
Di dalam Iran sendiri, pertanyaan besar muncul: siapa yang akan menggantikan Khamenei, dan bagaimana keseimbangan kekuasaan antara elite ulama, politisi sipil, dan Garda Revolusi akan berubah? Di atas kubah Masjid Jamkaran, bendera merah terus berkibar, menjadi pesan bahwa kematian pemimpin tertinggi telah membuka babak baru, bukan hanya dalam politik domestik, tetapi juga dalam konflik yang kini mengancam seluruh Timur Tengah.



