Sosok Ustadzah Rahma, atau yang dikenal juga sebagai Sunia Ruhama, menjadi pusat perhatian publik setelah video ceramahnya viral di berbagai platform media sosial. Kemunculan video tersebut, yang menyebar luas beberapa waktu lalu, sontak memicu perdebatan sengit di kalangan warganet.
Banyak pihak memuji gaya penyampaian materi pengajian Sunia Ruhama yang dinilai jelas dan mudah dipahami. Namun, sorotan utama dan perdebatan paling intens justru tertuju pada identitas pribadinya. Kontroversi semakin memanas setelah muncul tudingan bahwa Sunia Ruhama adalah seorang transgender, sekaligus pendiri komunitas waria di Kendal, Jawa Tengah.
Sunia Ruhama dikenal sebagai seorang pembatik ulung asal Weleri, Kendal. Ia merupakan lulusan Sosiologi FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2004, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,56. Skripsi yang ia tulis saat menempuh pendidikan di UGM membahas tentang keanekaragaman ekspresi busana waria, sebuah topik yang pada masanya dianggap sensitif dan jarang diangkat di lingkungan akademik.
Selain berprofesi sebagai pengrajin batik, Sunia Ruhama juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Dalam beberapa unggahan di media sosialnya, ia secara terbuka menyatakan diri sebagai simpatisan Nahdlatul Ulama (NU) dan kerap menghadiri acara-acara yang diselenggarakan oleh Fatayat NU. Ia juga disebut-sebut sebagai koordinator komunitas Gus Durian di wilayah Kendal.
Perdebatan mengenai identitas dan peran Sunia Ruhama ini terus bergulir, menunjukkan bagaimana fenomena viral di media sosial dapat mengangkat isu-isu sensitif ke ranah publik dan memicu diskusi luas di masyarakat.




