Balai Latihan Kerja (BLK) Subang bersiap menggelar pelatihan kerja pada akhir triwulan pertama tahun 2026, menyongsong era industrialisasi yang kian pesat di Kabupaten Subang. Program ini diharapkan dapat menjawab tantangan penyerapan tenaga kerja lokal di tengah kebutuhan industri yang terus berkembang.

“Rencananya setelah lebaran kita akan menggelar pelatihan kerja tahun 2026 ya,” ujar Kepala UPTD BLK Subang Syauqi, Selasa (24/2/2026). Ia menambahkan, tingginya minat masyarakat membuat pelaksanaan pelatihan akan dilakukan secara selektif melalui beberapa tahapan rekrutmen, mulai dari pendaftaran hingga seleksi administrasi.

Syauqi menjelaskan, penentuan kuota peserta disesuaikan dengan kapasitas pelatihan dan program Kementerian Ketenagakerjaan, dengan memprioritaskan pencari kerja aktif, lulusan baru, dan masyarakat yang belum bekerja.

Di tengah pertanyaan masyarakat mengenai jaminan kerja bagi alumni BLK, Syauqi menegaskan bahwa kepastian bekerja merupakan kewenangan perusahaan. Namun, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) ESDM Subang terus menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan industri melalui program link and match, rekrutmen langsung, dan job matching untuk memperluas peluang penempatan kerja.

Pada tahun 2025, BLK Subang berhasil melatih 784 peserta, dengan 448 di antaranya atau sekitar 57% telah terserap di dunia industri. Angka ini menjadi tantangan bagi BLK untuk terus menyiapkan tenaga kerja yang kompeten, bersertifikat, dan sesuai kebutuhan industri.

“Pertanyaan seperti itu selalu menggema tiap tahun, untuk hal itu kewenangan perusahaan, namun ya itu tadi kita berupaya untuk MOU dengan pelaku usaha dan industri agar alumni BLK terserap,” kata Syauqi.

Pengembangan Program Pelatihan dan Data Ketenagakerjaan Subang

Menyongsong transformasi industrialisasi dan teknologi, Syauqi menyatakan komitmennya untuk terus mengevaluasi dan mengembangkan program pelatihan. Tahun ini, beberapa pelatihan berbasis kompetensi baru direncanakan, khususnya pada industri yang mempengaruhi sektor terdepan seperti teknologi digital, otomatisasi listrik industri, dan sektor jasa lainnya.

“Kami terus mengevaluasi dan mengembangkan program pelatihan guna menyongsong industrialisasi,” tegas Syauqi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 bidang ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sektor jasa memberikan kontribusi terbesar dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Subang, mencapai 49,17 persen. Sektor pertanian menyerap 29,90 persen, sementara industri pengolahan menjadi lapangan pekerjaan yang paling sedikit menyerap tenaga kerja, yakni sebesar 20,93 persen. Komposisi ini mengindikasikan bahwa perekonomian Kabupaten Subang masih ditopang oleh sektor tersier.

Struktur penduduk bekerja di Kabupaten Subang juga menunjukkan dominasi tenaga kerja pada sektor informal. Kondisi ini mengindikasikan perlunya penguatan penciptaan lapangan kerja formal untuk mendorong kualitas ketenagakerjaan yang lebih baik.

Dari sudut pandang tingkat pendidikan, data tahun 2024 menunjukkan bahwa tenaga kerja dengan pendidikan SD ke bawah masih mendominasi pasar kerja Subang, mencapai 45,57 persen. Hal ini mencerminkan karakteristik lapangan pekerjaan yang sebagian besar masih menyerap tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan dasar.

Sebaliknya, proporsi tenaga kerja dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi masih relatif kecil, menunjukkan bahwa mereka belum terserap secara optimal di pasar kerja. Oleh karena itu, penguatan penciptaan lapangan kerja yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan menengah-tinggi, peningkatan keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja, serta peningkatan akses terhadap pelatihan keterampilan dan informasi pasar kerja menjadi sangat penting untuk mendorong peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja secara berkelanjutan serta menekan tingkat pengangguran terbuka.