Indonesia mencatat tiga capaian strategis sekaligus dalam kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto di Amerika Serikat. Capaian tersebut meliputi kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang berhasil ditekan menjadi 19%, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) kemitraan bisnis senilai Rp600 triliun, serta kepercayaan sebagai Wakil Komandan Pasukan Perdamaian dalam forum Board of Peace (BoP). Founder Freedom Institute, Rizal Mallarangeng, menyebut serangkaian keberhasilan ini sebagai “hattrick” Indonesia di Washington DC.

“Kita ini kan berkah bulan puasa ini Indonesia membuat hat-trick di Amerika. Presiden Prabowo harus kita berikan dua jempol saya kira,” kata Celi, sapaan akrab Rizal Mallarangeng, dalam kanal YouTube Freedom Institute pada Jumat (20/2).

Capaian Ekonomi: Business Summit dan MoU Rp600 Triliun

Tiga capaian tersebut datang berurutan, diawali dari Business Summit yang mempertemukan Presiden Prabowo dengan para pengusaha besar Amerika dan Indonesia. “Business Summit ya. Di mana Presiden Prabowo hadir. Dengan pengusaha-pengusaha raksasa Amerika. Juga pengusaha-pengusaha besar Indonesia yang dipimpin oleh Kadin,” ujar Celi.

Pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan menghasilkan angka yang signifikan. “Itu menghasilkan kesepakatan perdagangan jumlahnya 38 miliar dolar,” tegasnya. Selain komitmen perdagangan senilai USD 38 miliar, turut diteken MoU kemitraan bisnis Indonesia–Amerika Serikat senilai sekitar Rp600 triliun. Kemitraan ini mencakup sektor energi, hilirisasi, manufaktur, teknologi, dan penguatan rantai pasok strategis.

Penurunan Tarif Ekspor ke Amerika Serikat

Angka-angka tersebut dinilai menjadi fondasi konkret sebelum memasuki capaian berikutnya yang tak kalah penting, yaitu kesepakatan tarif bilateral. Proses negosiasi tarif, menurut Celi, merupakan cerita panjang. “Ya jadi ini puncak dari proses panjang ya. Puncak proses panjang yang ditandatangani hari kamis ya,” ujarnya.

Tarif yang sebelumnya berada di angka 32 persen berhasil ditekan menjadi 19 persen. Celi mengingatkan bahwa dalam perdebatan soal tarif, seringkali orang lupa pada satu hal mendasar, yaitu tarif 19 persen itu dibayar oleh rakyat Amerika. Dalam konteks global yang tidak selalu ideal, ia menilai hasil ini sebagai capaian optimal. “Dalam pengertian itu apa yang kita dapat sekarang itu optimal. Perjuangan setahun dengan drama dan naik dan turun,” sambungnya.

Dengan kesepakatan ini, akses Indonesia ke pasar Amerika Serikat, ekonomi terbesar dunia, menjadi lebih pasti dan terukur.

Peran Indonesia sebagai Wakil Komandan Pasukan Perdamaian

Rangkaian capaian Indonesia belum selesai. Sehari setelah Business Summit dan penuntasan kesepakatan tarif, Indonesia juga mengambil peran dalam forum Board of Peace (BoP), sebuah inisiatif baru untuk mendorong penyelesaian konflik Palestina–Israel. Indonesia dipercaya sebagai Wakil Komandan Pasukan Perdamaian.

“Saya kira kita harus bangga bahwa kita berani masuk dalam sistem terobosan baru ini,” ungkap Celi. Baginya, BoP bukan sekadar forum diskusi, melainkan sebuah lembaga yang meminjam istilah Trump: “This is for action. This is for something operational”. Celi melihat pendekatan baru ini sebagai sesuatu yang layak diberi kesempatan.

Langkah Kokoh bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Dalam satu pekan yang padat, Indonesia menuntaskan negosiasi ekonomi, mengamankan komitmen investasi besar, sekaligus masuk ke lingkar strategis percaturan geopolitik global. Menurut Celi, kombinasi itulah yang membuat momen ini berbeda. “Ini menjadi langkah yang kokoh memberikan kepastian bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” tegasnya.