Mengenal Karya Sastra yang Baik

  • Bagikan
Mengenal Karya Sastra yang Baik

Mengenal Karya Sastra yang Baik

Oleh : Ade Kurnia Putri Larasati

KilatNews.Co – Berbicara mengenai karya sastra memang sudah tidak asing lagi, apalagi untuk kalangan pelajar dan mahasiswa. Sumardjo & Saini (1997: 3-4) menyatakan bahwa sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Menurut pandangan Sugihastuti (2007: 81-82) karya sastra merupakan media yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan pengalamannya. Sebagai media, peran karya sastra sebagai media untuk menghubungkan pikiran-pikiran pengarang untuk disampaikan kepada pembaca.

Selain itu, karya sastra juga dapat merefleksikan pandangan pengarang terhadap berbagai masalah yang diamati di lingkungannya. Realitas sosial yang dihadirkan melalui teks kepada pembaca merupakan gambaran tentang berbagai fenomena social yang pernah terjadi di masyarakat dan dihadirkan kembali oleh pengarang dalam bentuk dan cara yang berbeda. Selain itu, karya sastra dapat menghibur, menambah pengetahuan dan memperkaya wawasan pembacanya dengan cara yang unik, yaitu menuliskannya dalam bentuk naratif. Sehingga pesan disampaikan kepada pembaca tanpa berkesan mengguruinya.

Dalam menentukan apakah suatu karya sastra itu baik atau tidak, sebenarnya sangat sulit. Karena, hal ini disebabkan oleh beragamnya selera dan kriteria yang ada.

Berikut akan dibicarakan ciri-ciri karya sastra yang baik. Ciri karya sastra yang baik tersebut tidak berarti harus memenuhi seluruh ciri-ciri di bawah ini. Ciri karya sastra yang baik bisa satu, dua, atau beberapa kriteria seperti yang akan dibicarakan berikut ini.

Pertama, karya sastra yang baik bisa mengkristal. Karya sastra yang baik bisa melampaui ruang dan waktu. Ciri ini mengisyaratkan adanya penerimaan pembaca. Sastra peranakan Cina atau yang biasanya disebut sastra Melayu Rendah, berdasarkan suatu penelitian sebenarnya besar peranannya bagi timbulnya Angkatan Balai Pustaka, tetapi karena sastra peranakan Cina tidak mampu mengkristal maka tidak ada karya pada masa ini yang dikenal hingga sekarang.

Serat Centini, Negara Kertagama, Arjuna Wiwaha adalah karya-karya lama yang mampu melampaui ruang dan waktu, demikian juga dengan karya-karya sastra puncak, seperti Sitti Nurbaya (Marah Rusli), Salah Asuhan (Abdul Muis), Layar Terkembang (S. Takdir Alisjahbana), Belenggu (Armijn Pane), Atheis (Achdiat K. Mihardja), Keluarga Gerilya (Pramoedya Ananta Toer), Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis), dan Olenka (Budi Drama).

Kedua, karya sastra yang baik mempunyai sistem yang bulat, baik sistem bentuk, bahasa, maupun isi. Di dalam karya satra harus ada  unity (keutuhan), balance (keseimbangan), harmoni (keselarasan), dan right emphasis (tekanan yang tepat). Makna keseluruhan dari karya sastra terjabar dengan baik dalam setiap unsur-unsur nya.

Pemisahan yang dilakukan oleh para ahli terhadap unsur karya sastra adalah salah satu usaha yang dilakukan untuk mempermudah memahami karya sastra. Ukuran dan bobotnya harus sesuai dengan bentuk dan fungsinya. Mempunyai keselarasan antarunsur karya sastra dengan keseluruhan karya sastra. Adanya tekanan tertentu dengan proporsi tertentu pada suatu karya sastra.

Ketiga, karya sastra yang baik bisa mengungkapkan isi jiwa sastrawan dengan baik. Karya tersebut harus bisa mengungkapkan isi pikiran, perasaan, emosi, keinginan, dorongan, ciri khas, atau cita-cita dari pengarangnya. Salah satu contohnya seperti, cerpen “Kritikus Adinan” karya Budi Darma dengan baik dapat menampung rasa takut, kesepian, dan pikiran Budi Darma tentang kelicikan manusia.

Keempat, karya sastra yang baik adalah penafsiran kehidupan dan mengungkapkan hakikat kehidupan. Karya sastra yang baik dapat mengungkapkan hal-hal yang orang lain tidak bisa mengungkapkannya dan melihatnya.

Kelima, karya sastra yang baik tidak bersifat menggurui. Di dalam karya satra memang bisa ditemui adanya ajarang moral, filsafat, tingkah laku, karena memang karya sastra merupakan latihan intelektual dan moral. Banyak sastrawan yang mengambil bentuk-bentuk spiritual agama.

Meskipun demikian, apa yang mereka kemukakan tidak bersifat menggurui. Contoh sastrawan yang meangmbil spiritual agama tersebut adalah Danarto, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, dan Sutardji Calzoum Bachri.

Keenam, karya yang baik tidak terikat oleh nilai-nilai dan fakta-fakta setempat, tetapi lebih bersifat universal. Sastrawan yang baik mempunyai daya serap yang baik sehingga mereka dapat menciptakan jarak antara kehidupan sehari-hari dan kehidupan di dalam karya sastra.

Contoh sastrawan yang mampu kreatif menyikapi nilai dan fakta tradisi adalah Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Arifin C, Noer, Sutardji Calzoum Bachri, W.S. Rendra, dan Putu Wijaya.

Ketujuh, karya sastra yang baik tidak melodramatis, tidak mempunyai kesan diatur-atur. Memang, setiap kejadian dalam karya sastra semuanya diatur oleh sastrawan, mulai dari permulaan hingga akhir karya sastra. Yang menciptakan tokoh, memilih latar, gaya bahasa, atau, unsur lainnya adalah sastrawan.

Meskipun demikian, semua yang ditulis sastrawan harus sesuai dengan karya sastra. Jangan sampai diri sastrawan justru yang menonjol dalam karangannya sendiri.

Kedelapan, karya sastra yang baik harus menunjukkan kebaruan, keindividualan, dan keaslian. Kebaruan, mesnyaratkan adanya peningkatan kualitas dan munculnya sesuatu yang lain dari pada karya sastra yang mendahuluinya. Keindividualan, merujuk pada kekhasan bentuk dan isi karya sastra setiap sastrawan. Puisi Sapardi Djoko Damono akan berbeda gayanya dengan puisi Rendra, D. Zawawi Imron, Abdul Hadi W.M., atau Taufiq Ismail.

Keaslian, merujuk pada keaslian gagasan, keaslian yang dibentuk dan keaslian mengolah dan menyampaikan isi. Karya sastra yang asli tidak menjiplak karya orang lain. Sitti Nurbaya (Marah Rusli), Layar Terkembang (S. Takdir Alisjahbana), Belenggu (Armijn Pane), Atheis (Achdiat K. Mihardja), Pada Sebuah Kapal (Nh. Dini), dan Raumanen (Marianne Katoppo) adalah contoh-contoh yang memenuhi kebaruan, keindividualan, dan keaslian.

Demikianlah beberapa ciri mengenai karya sastra yang baik dan semoga dapat menambah pengentahuan kita semua. Dan kita dapat terus melestarikan karya-karya sastra. Sebagai generasi muda, sudah selayaknya kita juga harus berperan aktif dalam mengembangkan bakat dan minat kita dalam bidang sastra. Serta menjadikan para sastrawan ini menjadi bukti nyata bahwa perkembangan karya-karya sastra di Indonesia sangatlah luar biasa.

Tidak menutup kemungkinan untuk kita, bisa mengikuti jejak-jejak para sastrawan yang sangat hebat, yang telah lama berkiprah di dunia sastra dan melahirkan karya-karya sastra yang luar biasa. Segelintir para sastrawan yang tertuang diatas hanya secuil dari banyaknya sastrawan yang terkenal.


Ade Kurnia Putri Larasati. Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Referensi

Akhir UT. Hakikat Sastra dan Karya Sastra. Dalam https://eprints.uny.ac.id/8360/3/BAB%202-07204241003.pdf

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Grasindo

  • Bagikan