Esai  

Bahar Semit kuwi sopo?

Bahar Semit kuwi sopo?

Bahar Semit kuwi sopo?

Oleh : Agung Wibawanto

KilatNews.CoBahar Semit kuwi sopo?” Tanya seorang pelanggan angkringan yang mangkal dekat kediaman saya.

Lha, mosok gak kenal sih Om? Kuwi habib terkenal sing lagi viral diomongi uwong-uwong je…,” tutur pengunjung lain menjelaskan.

Juk nek wis diomongi uwong, aku kudu kenal ngunu?” Tanya si bapak pelanggan lagi.

Yo ora sih. Ning kuwi tandane jenengan kuper om alias kudet,” balas pengunjung lain itu.

Ngene ya le. Aku kuwi uwong sing sekektip nek arep bahas opo wae. Kanggo ku opo sing dibahas kuwi kudu ono manfaat opo paedahe ngunu lho. Lha nek gak ono gunane dibahas yo kanggo opo? Mung gawe garing lambeku wae.”

Cubo, saiki kowe omong bab Si Bahar kuwi neng kene, gunane opo? Mulo tak kiro Si Bahar kuwi uwong sing terkenal mergo prestasi tur Isa ditiru awake dewe. Nek gak ono kontribusine kangge bongso lha buat apa?” Si Bapak menjelaskan alasannya.

Sebuah obrolan sederhana dari rakyat kecil yang mungkin bisa membuka hati pikiran kita sebagai masyarakat awam. Ya, pertanyaannya adalah, siapa sih Bahar Smith sehingga dia dianggap pantas untuk dibicarakan seantero Nusantara? Punya prestasi apa? Kehebatannya apa? Jika memang bukan siapa-siapa kenapa bisa ngalahin bahasan Eggy Maulana Vikri ataupun Si Ciamik Arkan di Timnas?

Satu penyakit masyarakat kita adalah gayanya yang sok tahu dan sok bener jika berbicara. Seperti juga saat pertandingan Timnas vs Thailand berlangsung tadi malam, banyak sekali penonton yang memberi komentar miring soal Timnas. Apa mereka pernah ngurus Timnas? Apa juga pernah ikut menjadi bagian timnas? Jadi pemain atau pelatih, misalnya? Ternyata tidak. Bahkan pengetahuan soal bola pun ya sebatas membaca dan nonton saja.

Namun begitu, lagak dan gaya kita kan seolah paling mengerti apa yang dibahas. Bahkan kadang kalau ada yang berbeda dengan pendapat miringnya itu bisa sewot dan ngegas. Bak seekor burung mengajarkan bagaimana ikan berenang. Tentu sesuatu yang aneh dan bahkan tidak mungkin seharusnya. Meski begitu, bukan artinya tidak boleh berpendapat. Silahkan saja, tapi ya kira-kira akan kemampuan dan pengetahuan kita.

Bahar itu juga begitu. Seharusnya, selain bukan orang yang penting, juga apa yang dilakukannya sudah ada yang mengurus. Mengapa harus terus dibahas dan diviral-viralkan? Semakin diviralkan maka dia akan semakin senang, dan memang itu tujuannya, yakni ingin membuat teror dalam opini masyarakat. Masyarakat yang tidak suka padanya mengatakan Bahar itu preman, tidak punya etika, kok dibiarkan, kok aparat lemah, dst.

Tanpa dipahami, opini ini kemudian dijadikan perspektif oleh masyarakat awam bahwa Bahar itu memang seorang pemberani, bahkan aparat ia hadapi tanpa rasa takut. Sebaliknya, aparat (Polri/TNI) itu tidak profesional. Itu yang terbangun dalam pandangan masyarakat. Bahar sendiri memang sudah sedia diri alias pasang badan untuk diproses hukum beberapa kali pun ya tidak masalah. Dipenjara juga gak bikin dia kapok.

Istilahnya, Bahar sudah digaransi hidupnya oleh para Bohir yang membayarnya untuk melakukan kegaduhan. Gaduh lalu ditangkap dan dibebaskan kemudian berbuat gaduh kembali. Sama dengan gurunya yakni Rizieq Shihab. Hukum sekarang kan memang tidak bisa sembarangan lagi seperti dulu (zaman orba). Dulu, selain bisa bertindak keras, namun juga pakai cara “menyuap” agar diam dan patuh. Dua itu saja caranya.

Sekarang kan berbeda di mana hukum dan aparat dituntut profesional (berjalan di atas rel peraturan), gak boleh sembarang menangkap, ntar dibilang kriminalisasi dan melanggar HAM. Ketika bekerja berdasarkan aturan dan SOP maka juga bisa dianggap tidak tegas. Presiden tidak kurang-kurangnya mengingatkan agar aparat profesional dalam arti sesuai aturan namun juga tidak tidak lagi menggunakan cara-cara “sowan” kepada ormas dan oknum perusuh.

Polri dan TNI saya percaya kini semakin profesional dan mereka memiliki cara tersendiri untuk mengamankan dan menertibkan masyarakat agar hidup lebih kondusif. Serahkan saja kepada aparat di setiap kasus ataupun perkara hukum yang terjadi. Tidak perlu heboh mengatur dan meminta ini itu seolah kita mengajari dan lebih paham ketimbang aparat. Selain itu juga agar masyarakat tidak menjadi gaduh dengan berdebat yang makan energi.

Seperti juga kata Si Bapak pelanggan angkringan di atas, “Gak kenal, gak urus”. Artinya, kalau tidak kenal ngapain diurusi? Nambahin beban pikiran hidup yang sudah berat menjadi semakin berat saja. Tapi kan “gregetno”? Ya maklum sih. Untuk menghindari rasa kesal dan marah, cara terjitu dan termudah adalah dengan tidak membicarakannya. Anggap saja kita tidak tahu apa-apa maka kita terbebas dari rasa-rasa seperti itu. Gitu kan?

Kasus penyebaran kebencian yang dilakukan oleh Bahar Smith sendiri kini sudah ditangani oleh Polda Jabar. Setelah diperiksa oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum atau Ditreskrimum Polda Jawa Barat pada Senin, 3 Januari 2022 Bahar Smith ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan. Kita tunggu saja proses selanjutnya dengan tenang tidak perlu heboh.