Kota Cirebon, yang kaya akan warisan budaya dan sejarah, menyimpan sebuah permata arsitektur Islam yang tak lekang oleh waktu: Masjid Pejlagrahan. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah monumen hidup yang menjadi saksi bisu perjalanan syiar Islam di tanah Cirebon, sekaligus dikukuhkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Berlokasi di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Masjid Pejlagrahan memiliki letak yang unik. Tersembunyi di dalam gang kecil yang padat oleh pemukiman warga, masjid ini juga bersebelahan langsung dengan Keraton Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Dahulu kala, masjid ini dibangun di bibir pantai, namun seiring berjalannya waktu, pengendapan alami telah mengubah lanskapnya, menjadikannya kini berada di daratan.

Pangeran Cakrabuana dan Jejak Awal Syiar Islam

Sejarah mencatat, Masjid Pejlagrahan didirikan oleh Pangeran Cakrabuana, yang juga dikenal sebagai Pangeran Walangsungsang, pada tahun 1431. Catatan ini secara resmi menempatkan Masjid Pejlagrahan sebagai masjid tertua di Kota Cirebon, mengungguli masjid-masjid kuno lainnya seperti Masjid Merah Panjunan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang juga memiliki nilai sejarah tinggi.

Keaslian Bangunan yang Terjaga

Meskipun sempat menjalani renovasi besar pada tahun 1994 untuk memperkokoh strukturnya, Masjid Pejlagrahan berhasil mempertahankan sejumlah elemen asli yang tak ternilai harganya. Empat saka guru atau pilar utama, kayu bagian atap, mimbar khotib, kubah, hingga prasasti kuno masih terjaga keasliannya, menawarkan pandangan langsung ke masa lalu.

Keberadaan bagian-bagian asli ini menjadikan Masjid Pejlagrahan sebagai destinasi yang menarik bagi para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang ingin menelusuri jejak sejarah dan religi. Tak hanya itu, nilai historis dan arsitekturnya yang unik juga seringkali menjadi objek penelitian bagi berbagai kalangan akademisi dan sejarawan.