Di balik statusnya sebagai salah satu situs bersejarah paling penting di Banda Aceh, Gampong Pande menorehkan cerita unik tentang bagaimana nilai kemanusiaan, sejarah, dan masa depan generasi muda dirawat dengan cara yang tidak biasa. Inovasi tersebut lahir dari tangan dingin Keuchik Gampong Pande, Dio Fiscia Erjiansyah. Di bawah kepemimpinannya, gampong ini mencuri perhatian melalui program pembentukan karakter anak yang menyentuh hati, hingga gagasan mendirikan museum tingkat gampong pertama di Aceh.
Membangun Karakter Melalui Bakti Anak
Berawal dari keresahannya melihat memudarnya nilai adat dan kesopanan di kalangan remaja, Dio menginisiasi program unik sejak pertama kali menjabat lima tahun lalu. Setiap bulan Ramadan, ia menantang anak-anak di desanya untuk berpuasa penuh. Di penghujung bulan, tepat saat Hari Raya Idulfitri, mereka diminta mencuci kaki orang tua sebagai bentuk penghormatan dan bakti.
“Sebagai buktinya, mereka harus memfoto atau memvideokan momen saat mencuci kaki orang tua dan mengirimkannya ke saya. Nanti, mereka akan mendapatkan bingkisan hadiah berupa Al-Qur’an, sajadah, tempat nasi, dan botol minum yang sudah saya siapkan,” ujar Dio saat ditemui Pintoe.co di kantornya.
Inovasi yang awalnya hanya diikuti belasan anak itu, kini berkembang pesat hingga diikuti 154 anak pada tahun ini. Program tersebut bahkan telah diadopsi sejumlah sekolah dan mengantarkan Dio menerima penghargaan dari Wali Kota Banda Aceh. Bukan hanya untuk anak-anak, program itu juga diwajibkan bagi perangkat gampong dan mahasiswa yang sedang menjalani KKN di Gampong Pande.
“Saya bilang ke mereka yang KKN, sisakan waktu tiga hari untuk pulang kampung, cuci kaki orang tua kalian, rekam, dan serahkan ke saya. Bayangkan, ada orang tua yang datang menangis mengadu ke saya, seumur hidup anaknya yang sudah berusia 27 tahun belum pernah sekalipun memegang kaki orang tuanya. Melalui program ini, mereka akhirnya merasakan momen itu,” kenang Dio.
Merawat Warisan Sejarah dengan Museum Desa
Daya tarik lain Gampong Pande adalah rencana menyulap bangunan terbengkalai yang dahulu dikenal sebagai Balee Inong menjadi Museum Gampong. Menurut Dio, jika terwujud, Gampong Pande akan menjadi gampong pertama di Aceh yang memiliki museum resmi milik gampong, bukan museum pribadi.
Pembangunan fisik museum sebenarnya telah mencapai sekitar 70 persen. Namun, pengerjaannya melambat akibat penyesuaian anggaran gampong untuk program prioritas lainnya. Artefak koleksi Museum Gampong Pande masih disimpan di kantor keuchik. Sejumlah koleksi museum telah ditata dan dipersiapkan untuk dipamerkan, di antaranya pedang, guci keramik kuno, uang dirham emas, serta berbagai artefak lainnya.
Untuk sementara, koleksi tersebut masih disimpan di kantor keuchik hingga proses renovasi museum rampung. Dio juga menginstruksikan warga yang menemukan benda bersejarah agar menyerahkannya kepada pihak gampong dan tidak menjualnya ke luar daerah. Sebagai bentuk apresiasi, nama penemu akan dicantumkan pada etalase benda tersebut.
“Rencana museum ini bahkan sudah dipantau oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan menarik minat investor dari Turki hingga Singapura. Mereka sangat antusias dan siap menyalurkan bantuan begitu museum ini resmi berdiri,” ungkapnya.
Menjaga Ruang Aktivitas Generasi Muda
Di bidang kepemudaan, Dio dikenal aktif menjaga ruang aktivitas bagi generasi muda. Ia pernah menolak usulan untuk mengubah lapangan gampong menjadi rumah sewa dan memilih mempertahankannya sebagai sarana olahraga bagi warga, terutama bagi anak-anak muda yang rutin bermain sepak bola dan voli pada sore hari.
“Kalau lapangan ini dijadikan rumah sewa, anak-anak kehilangan sarana olahraga. Di zaman sekarang, anak-anak sudah sangat apatis karena sibuk dengan handphone. Dengan bermain di lapangan meskipun hanya 15 menit, setidaknya selama 15 menit itu mereka lepas dari ketergantungan gawai,” tegas pria yang juga gemar bermain musik itu.
Memperkuat Ekonomi dan Visi Masa Depan
Di samping berbagai program sosial, pelestarian sejarah, dan pengembangan generasi muda, Gampong Pande juga terus memperkuat sektor ekonomi melalui Badan Usaha Milik Gampong (BUMG). Saat ini, BUMG setempat mengelola usaha tambak udang serta penggemukan sapi dengan sistem bagi hasil.
Bagi Dio, pembangunan gampong tidak hanya soal infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi. Melalui program pembentukan karakter anak, rencana pendirian museum gampong, serta penyediaan ruang aktivitas bagi generasi muda, ia berharap Gampong Pande tetap menjadi tempat yang menjaga nilai-nilai masa lalu sekaligus menyiapkan masa depan.




