Tim nasional Spanyol kembali mengukir sejarah di panggung sepak bola dunia. Enam belas tahun setelah mengangkat trofi pertama, La Roja berhasil menaklukkan juara bertahan Argentina 1-0 dalam laga final Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) WIB.
Gol tunggal kemenangan Spanyol dicetak oleh Ferran Torres pada menit ke-106 babak tambahan waktu. Penyerang yang masuk sebagai pemain pengganti itu dengan sigap memanfaatkan bola muntah hasil penyelamatan gemilang kiper Argentina, Emiliano Martínez, untuk memecah kebuntuan setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol selama 90 menit.
Usai pertandingan, Torres mengungkapkan bahwa gol tersebut bukan hanya miliknya pribadi, melainkan milik seluruh bangsa Spanyol. “Gol itu dicetak oleh 47 juta rakyat Spanyol. Itu bukan hanya gol saya atau milik 26 pemain di tim ini. Memang sudah menjadi takdir bahwa gol itu akan tercipta dan menjadi gol kemenangan,” ujar Torres kepada Reuters.
Perjalanan Impresif dan Kebangkitan La Roja
Kemenangan di final ini melengkapi perjalanan impresif Spanyol sepanjang turnamen. Skuad asuhan Luis de la Fuente tampil sangat solid, hanya kebobolan satu gol dari total delapan pertandingan. Satu-satunya gol yang bersarang ke gawang Spanyol tercipta saat perempat final melawan Belgia, dicetak oleh Charles De Ketelaere. Tujuh pertandingan lainnya, termasuk partai puncak, berhasil mereka akhiri dengan clean sheet.
Gelar Piala Dunia 2026 ini juga menegaskan kebangkitan Spanyol sebagai kekuatan utama sepak bola dunia, menyusul keberhasilan mereka menjuarai Euro 2024 sebelumnya.
Regenerasi Berbuah Manis
Keberhasilan di Amerika Serikat menjadi bukti nyata bahwa Spanyol telah sukses melewati masa transisi setelah berakhirnya era generasi emas yang berjaya di Piala Dunia 2010. Para legenda seperti Iker Casillas, Xavi Hernández, Andrés Iniesta, Carles Puyol, Sergio Busquets, dan David Villa kini telah digantikan oleh talenta-talenta baru.
Tongkat estafet kepemimpinan di lapangan kini diemban oleh pemain-pemain seperti Rodri, Lamine Yamal, Nico Williams, Pau Cubarsí, Dani Olmo, Marc Cucurella, hingga Ferran Torres. Meski terjadi pergantian generasi, identitas permainan Spanyol yang mengandalkan penguasaan bola, disiplin taktik, dan kolektivitas tetap terjaga dengan baik.
Pelatih Luis de la Fuente menyoroti persatuan sebagai fondasi utama kesuksesan timnya. “Kami adalah tim yang paling solid. Hal itu terjadi karena kami memiliki orang-orang yang menjunjung tinggi solidaritas dan nilai-nilai yang sama,” ungkap De la Fuente.
Ia juga melayangkan pujian tinggi kepada para pemainnya yang dinilai mampu mempertahankan sekaligus mengembangkan filosofi sepak bola Spanyol. “Saya sangat bangga dengan generasi pemain ini. Mereka tumbuh dengan filosofi tersebut, tetap setia menjalaninya, bahkan membuatnya menjadi lebih baik. Mereka menjadi teladan sebagai sebuah tim dan keluarga. Mereka adalah pemain-pemain kelas dunia dengan talenta yang luar biasa,” tambahnya.
Dominasi Spanyol di Lapangan
Spanyol tampil dominan sejak peluit pertama dibunyikan. Tim asuhan Luis de la Fuente menguasai sekitar 65 persen penguasaan bola, melepaskan 20 tembakan dengan 12 di antaranya tepat sasaran, serta mencatat jumlah operan yang jauh lebih banyak dibandingkan Argentina. Dominasi ini membuat juara bertahan kesulitan mengembangkan permainan mereka.
Keunggulan Spanyol tidak hanya tercermin dari statistik, tetapi juga dari kemampuan mereka mengendalikan ritme pertandingan. Argentina bahkan kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang laga.
Meskipun demikian, Emiliano Martínez menunjukkan performa luar biasa di bawah mistar gawang Argentina. Kiper Aston Villa itu membukukan 11 penyelamatan, menjadikannya penjaga gawang dengan jumlah penyelamatan terbanyak dalam final Piala Dunia sejak pencatatan statistik modern dimulai pada tahun 1966. Ia berkali-kali menggagalkan peluang Spanyol sebelum akhirnya tak mampu menghalau bola muntah yang disambar Ferran Torres.
Di sisi lain, Albiceleste nyaris tak mampu memberikan ancaman berarti. Argentina bahkan baru melepaskan percobaan tembakan pertama pada menit ke-117 melalui Lionel Messi, yang memperlihatkan rapatnya organisasi pertahanan Spanyol sepanjang pertandingan.
Argentina Akui Keunggulan Lawan
Bagi Argentina, hasil ini menggagalkan upaya mereka untuk mempertahankan gelar yang diraih pada Piala Dunia 2022. Pelatih Lionel Scaloni mengakui Spanyol tampil lebih baik dan layak menjadi juara.
“Mereka memang lebih baik, itu benar. Namun, saya akan selalu mengenang apa yang telah dicapai para pemain saya. Kami mampu bersikap baik saat meraih kemenangan, dan kami juga harus bersikap demikian ketika kalah. Malam ini kami menunjukkan bahwa kami tahu bagaimana menerima kekalahan. Kami kalah, dan kami menerimanya,” kata Scaloni.




