Kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 pada Jumat, 17 Juli 2026, diwarnai kontroversi. Sejumlah pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” (Malvinas adalah milik Argentina) saat merayakan kemenangan 2-1 di lapangan, memicu reaksi keras dari pemerintah Inggris.
Aksi tersebut dianggap membawa pesan politik dalam ajang sepak bola, yang bertentangan dengan aturan FIFA. Spanduk itu merujuk pada sengketa kedaulatan Kepulauan Malvinas, atau yang dikenal di Inggris sebagai Falkland Islands, wilayah di Samudra Atlantik Selatan yang masih diperebutkan kedua negara.
Juru bicara Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan posisi pemerintah terkait Kepulauan Falkland. “Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami. Sikap kami tidak berubah. Hak menentukan nasib sendiri berada di tangan warga kepulauan, dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah,” ujarnya, Kamis, 16 Juli 2026.
Starmer juga menyatakan bahwa langkah selanjutnya merupakan kewenangan FIFA, seraya menegaskan bahwa politik seharusnya tidak dibawa ke dalam sepak bola. Senada, Menteri Bisnis Inggris, Peter Kyle, meminta FIFA menyelidiki insiden tersebut. “Salah satu prinsip utama Piala Dunia adalah memisahkan politik dari sepak bola. Kini hal itu menjadi urusan FIFA, dan saya berharap FIFA melakukan penyelidikan secara menyeluruh,” tegasnya.
FIFA Telaah Laporan Pertandingan
Menanggapi desakan itu, FIFA menyatakan Komite Disiplin Independen masih mempelajari laporan pertandingan sebelum menentukan langkah selanjutnya. “Sesuai dengan prosedur standar, Komite Disiplin Independen FIFA saat ini sedang menelaah laporan pertandingan dan mempertimbangkan seluruh keadaan yang relevan sebelum memutuskan kemungkinan langkah selanjutnya berdasarkan Kode Disiplin FIFA,” ujar juru bicara FIFA dalam pernyataan yang dikutip BBC, Jumat, 17 Juli 2026.
Aturan FIFA melarang penggunaan spanduk, bendera, atau pesan yang bersifat politik, ofensif, maupun diskriminatif di dalam stadion. Jika dinilai melanggar ketentuan tersebut, Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) berpotensi menghadapi sanksi disiplin.
Sengketa Hampir Dua Abad
Spanduk yang dibentangkan para pemain merujuk pada slogan “Las Malvinas son Argentinas”, yang telah lama digunakan Argentina sebagai simbol klaim kedaulatan atas Kepulauan Malvinas. Sengketa Kepulauan Malvinas telah berlangsung hampir dua abad.
Argentina mengklaim kepulauan itu sebagai bagian dari wilayahnya, sedangkan Inggris telah menguasainya sejak 1833 dan hingga kini tetap menjalankan administrasi di sana. Konflik memuncak pada 2 April 1982, ketika pemerintahan militer Argentina menginvasi Kepulauan Malvinas. Inggris kemudian mengirim armada militer untuk merebut kembali wilayah tersebut.
Perang berlangsung selama 74 hari dan berakhir pada 14 Juni 1982 setelah Argentina menyerah. Menurut Reuters, konflik itu menewaskan 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, serta tiga warga sipil Falkland, sehingga total korban jiwa mencapai lebih dari 900 orang.
Sejak perang berakhir, Inggris tetap menguasai Kepulauan Falkland. Sementara itu, Argentina tidak pernah mencabut klaimnya dan terus memperjuangkannya melalui jalur diplomatik di berbagai forum internasional. Sengketa yang belum terselesaikan itu menjadi latar belakang kontroversi pembentangan spanduk “Las Malvinas son Argentinas” seusai kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026.




