Majelis Pakar Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru pada Senin, 9 Maret 2026. Penunjukan putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel, sementara respons resmi dari Washington masih dinanti.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh televisi pemerintah Iran, mengonfirmasi Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya. Majelis Pakar Iran, sebuah lembaga ulama yang memiliki wewenang untuk memilih pemimpin tertinggi negara, mengeluarkan pernyataan resmi.
Mojtaba Khamenei Resmi Pimpin Iran
“Dengan suara tegas, Majelis Pakar telah menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran,” demikian pernyataan lembaga tersebut, seperti dikutip dari The Week. Televisi pemerintah juga menayangkan rekaman perayaan warga di beberapa wilayah Teheran menyambut pengumuman ini, seraya Majelis Pakar menyerukan persatuan dan dukungan bagi pemimpin baru.
Mojtaba Khamenei, 56 tahun, dikenal sebagai sosok yang tertutup dan jarang tampil di hadapan publik. Meskipun tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, ia telah lama disebut-sebut sebagai kandidat kuat penerus ayahnya. Mojtaba bergabung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran setelah menyelesaikan sekolah menengah pada tahun 1987 dan bertugas menjelang akhir Perang Iran-Irak.
Pada tahun 2021, ia dianugerahi gelar Ayatollah, sebuah syarat konstitusional untuk menjadi Pemimpin Tertinggi. Sebagai Pemimpin Tertinggi, Mojtaba akan memimpin militer Iran, termasuk IRGC, dan memiliki kewenangan luas dalam sistem teokrasi, termasuk pengelolaan persediaan uranium yang dapat digunakan untuk program nuklir.
Media Israel menyebut Mojtaba memiliki pandangan yang lebih keras dibandingkan ayahnya dan menyinggung keterlibatannya dalam penindasan protes di Iran. Kedekatannya dengan lembaga ulama dan aparat keamanan menempatkannya pada posisi yang sangat berpengaruh dalam struktur kekuasaan negara. Dengan penunjukan ini, Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi ketiga sejak berdirinya Republik Islam Iran, setelah Ruhollah Khomeini (1979–1989) dan Ali Khamenei (1989–2026), menandai transisi kekuasaan kedua dalam jabatan ini.
Respons Amerika Serikat dan Iran
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pengumuman Majelis Pakar mengenai terpilihnya Mojtaba Khamenei. Namun, Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyatakan penolakannya terhadap kemungkinan putra Ali Khamenei sebagai pemimpin baru Iran.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” kata Trump kepada ABC News pada Minggu, 8 Maret 2026. Trump juga menegaskan keinginannya untuk memiliki peran dalam menentukan siapa yang akan memimpin Iran setelah perang berakhir, bahkan menyebut seorang pemimpin baru Iran tidak akan bertahan lama tanpa persetujuannya. Beberapa laporan media menyebut bahwa ketika diminta komentar setelah pengumuman resmi, Trump hanya mengatakan, “We’ll see what happens,” namun pernyataan singkat ini bukan pernyataan resmi Gedung Putih.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pemilihan pemimpin tertinggi adalah urusan internal dan tidak dapat dicampuri pihak luar. “Kami tidak mengizinkan siapa pun untuk ikut campur dalam urusan dalam negeri kami. Ini terserah rakyat Iran untuk memilih pemimpin baru mereka,” kata Araghchi dalam wawancara dengan program Meet the Press NBC. Ia juga menuntut Trump meminta maaf kepada masyarakat Iran dan kawasan atas perang yang menurutnya dimulai oleh Amerika Serikat.
Dukungan internal bagi Mojtaba Khamenei terlihat jelas. Garda Revolusi Iran menyatakan dukungan penuh, sementara kelompok militan Lebanon yang didukung Iran, Hezbollah, membagikan potret Mojtaba di Telegram dengan keterangan “Pemimpin revolusi Islam yang diberkati.” Pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, memuji Majelis Pakar karena tetap menggelar pertemuan meskipun Teheran berada di bawah ancaman serangan udara. Larijani mengatakan bahwa Mojtaba Khamenei telah lama dibesarkan dalam “sekolah kepemimpinan” ayahnya dan dinilai mampu menghadapi situasi krisis, sekaligus memimpin Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Maha Yahya, direktur Carnegie Middle East Center di Beirut, berpendapat bahwa penunjukan Mojtaba tampaknya menjadi sinyal dari rezim Iran bahwa tekanan militer AS-Israel tidak akan memaksa Teheran mengubah sikapnya.




