Legenda sepak bola Italia, Alessandro Del Piero, menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi persepakbolaan negaranya yang dinilai sedang mengalami kemerosotan serius. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Liga Champions UEFA modern, wakil Serie A terancam gagal menempatkan satu pun tim di babak 16 besar.
Situasi ini semakin memburuk setelah Inter Milan secara mengejutkan tersingkir dari Bodø/Glimt. Napoli juga telah gugur pada fase liga, sementara dua wakil lainnya menghadapi tantangan berat. Juventus harus mengejar ketertinggalan agregat 5-2 dari Galatasaray, dan Atalanta tertinggal 0-2 dari Borussia Dortmund menjelang leg kedua babak gugur.
Krisis ini tidak hanya melanda level klub, tetapi juga tim nasional. Timnas Italia dihadapkan pada keharusan memenangkan pertandingan tandang melawan Wales atau Bosnia and Herzegovina demi menghindari kegagalan lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
“Bolehkah saya menangis? Situasinya berat,” kata Del Piero kepada CBS Sports, Kamis (26/2/2026). Ia menilai sekitar 90 hingga 95 persen kondisi sepak bola Italia memang sedang buruk dan merupakan hasil akumulasi masalah selama bertahun-tahun.
Menurut mantan kapten Juventus itu, tingkat investasi klub di Italia masih rendah, sementara liga-liga lain di Eropa telah berkembang jauh lebih besar. Del Piero juga menyoroti persoalan infrastruktur stadion dan sistem pembinaan usia muda yang belum berjalan optimal. Ia bahkan menyatakan keheranannya melihat banyak pemain muda Italia justru berkembang pesat di luar negeri, termasuk di klub-klub Jerman.
Selain itu, Del Piero menekankan pentingnya pengelolaan finansial klub yang lebih sehat, agar tidak terus-menerus bergantung pada pemilik untuk menutup kerugian setiap musim. Ia juga menyerukan untuk mengurangi kontroversi yang kerap mewarnai sepak bola Italia dan mengembalikan tradisi kejayaan yang pernah dimiliki.
Legenda Jerman, Jürgen Klinsmann, turut menanggapi situasi ini dengan menyebutnya “memalukan bagi sepak bola Italia.” Kepada ESPN, Klinsmann mengamati bahwa Inter Milan tidak pernah benar-benar yakin bisa membalikkan keadaan, meskipun bermain di stadion yang penuh dukungan. Minimnya peluang bersih dan tempo permainan yang tidak meningkat disebut Klinsmann sebagai bukti krisis performa yang lebih dalam daripada sekadar hasil pertandingan.




